Showing posts with label Pasar Modal. Show all posts
Showing posts with label Pasar Modal. Show all posts

INILAH.COM, Jakarta - Pergerakkan IHSG pada penutupan perdagangan Rabu (30/11) menguat 27,31 poin atau 0,7% ke 3.715,08. Volume perdagangan mencapai 3,9 miliar saham senilai Rp3,8 triliun.

Perdagangan diwarnai dengan 121 saham menguat, 103 saham turun dan 84 saham stagnan. Posisi investor asing net foreign buy Rp239,02 miliar dengan pembelian asing sebesar Rp1,7 triliun dan penjualan asing Rp1,5 triliun.

Indeks JII naik 0,78 poin ke 519,29, indeks ISSI naik 0,4 poin ke 120,72 dan indeks LQ45 naik 4,4 poin ke 657,05. Penguatan didukung sektor perkebunan yang naik 20,6 poin ke 2.174,27 disusul sektor konsumsi naik 20,3 poin ke 1.320,50 dan sektor infrastruktur yang naik 12,27 poin ke 694,04.

Indeks bergerak cukup volatile yang terpengaruh faktor regional. Level terendah hari ini di 3.679,21 dan tertinggi di 3.719,95.

Bursa Asia juga mayoritas melemah seperti indeks Hang Seng turun 1,7%, indeks Shanghai turun 3,2%, indeks Nikkei turun 0,5%, indeks Kospi turun 0,4%, indeks KLSE naik 0,9%, indeks STI turun 0,1%.

Saham yang menguat seperti saham GGRM naik Rp2.150 ke Rp64.750, FASW naik Rp700 ke Rp3.650, EMTK naik Rp625 ke Rp3.350, AALI naik Rp600 ke Rp22.400, KKGI naik Rp600 ke Rp6.400, AMFG naik Rp500 ke Rp6.950, ISAT naik Rp450 ke Rp5.550, PTBA naik Rp200 ke Rp17.000, SCMA naik Rp150 ke Rp7.550, SMGR naik Rp150 ke Rp9.200, TOTO naik Rp150 ke Rp47.150, BBCA naik Rp100 ke Rp7.800, BBRI naik Rp100 ke Rp6.600.

Saham yang melemah seperti saham UNTR turun Rp1.050 ke Rp23.350, DSSA turun Rp450 ke Rp11.750, HRUM turun Rp300 ke Rp6.700, BYAN turun Rp200 ke Rp17.950, ASII turun Rp150 ke Rp70.800, BMRI turun rp150 ke Rp6.400, IMAS turun Rp150 ke Rp13.000.
READ MORE - Investor Asing Bawa IHSG Menguat 0,7% ke 3.715 >

INILAH.COM, Jakarta –Jika indeks Dow Jones tembus resistance 11.400 jadi sinyal positif bagi IHSG. Jika tembus 3.675, indeks berpeluang ke 3.900 akhir 2011 dan tutup mata untuk beli saham apa saja.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, sekarang, pasar tinggal berpatokan, apakah semalam indeks Dow Jones tembus resistance 11.400 atau tidak. Jika tembus, pertanda AS memberikan sinyal positif dan IHSG pun sudah waktunya naik dan tutup mata untuk beli saham apa saja.

Menurutnya, support IHSG di level 3.600 dan resistance 3.675. Jika indeks bisa tutup di atas resistance itu, tren turun jangka pendek sudah selesai. Artinya, IHSG akhir tahun bisa tutup di atas 3.900. Jika ternyata tutup di level 4.000, itu merupakan bonus. “Saham apapun juga, selama koreksinya sudah signifikan antara 5-15% dalam dua pekan terakhir, wajib dibeli. Sebab, dipastikan rebound,” katanya kepada INILAH.COM.

Pada perdagangan Senin (28/11), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup mendarat pada teritori positif 9,86 poin (0,27%) ke level 3.647,049. Harga intraday tertingginya mencapai 3.676,404 dan terendah 3.618,969. Demikian pula dengan indeks saham unggulan LQ45 yang naik 1,72 (0,27%) ke level 643,145. Berikuta ini wawancara lengkapnya:

IHSG berhasil mendarat pada teritori positif pada perdagangan kemarin. Bagaimana arah berikutnya?

Kemarin pagi, Dow Jones Futures menguat gara-gara rumor Italia akan dibantu oleh International Monetary Fund (IMF). Tapi, IMF sudah membantahnya. Masalahnya, market kemarin tidak mau turun dan bursa Eropa pun masih naik. Sekarang, pasar tinggal berpatokan, apakah semalam indeks Dow Jones tembus resistance 11.400 atau tidak. Jika tembus, pertanda AS memberikan sinyal positif dan IHSG pun sudah waktunya naik.

Bagaimana dengan net sell asing kemarin yang mencapai setengah triliun?

Net sell investor asing hingga kemarin sore sangat besar, mencapai Rp556,3miliar. Kondisi ini membuat investor susah menentukan posisi. Karena itu, hingga kemarin sore, dibilang sinyal negatif tidak bisa, positif juga tidak bisa.

Mengapa penguatan kemarin tidak bisa dikatakan sinyal positif?

Sebab, sinyal negatif masih datang dari saham-saham di sektor pertambangan batu bara dan perbankan seperti PT Bank Mandiri (BMRI), PT Indo Tambang Raya (ITMG) dan PT United Tractor (UNTR). Semuanya, belum memberikan sinyal bullish. Misalnya, saham BMRI yang kemarin ditutup di bawah Rp6.500 (Rp6.400) sebagai pertanda atau sinyal bearish. Artinya, pasar masih bisa mendapatkan harga saham ini di level Rp6.000.

Saham-saham batu bara bagaimana?

Di sisi lain, sektor pertambangan dan perbankan juga masih diselimuti berita negatif. Pertambangan, dipengaruhi oleh terhentinya pengangkutan batubara jalur air dari area tambang ke terminal batu bara. Kondisi itu dipicu oleh runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara. Ini masih dinanti pasar seberapa besar pengaruhnya.

Jika ternyata parah, tidak ada pilihan lain, saham-saham sektor baru bara masih bisa turun lebih jauh. Sebab, denda keterlambatan muat, bisa mencapai US$100.000 per hari. Sebaliknya, jika tidak parah, akan ada tenaga untuk rebound.

Saham-saham sektor bank?

Saham-saham perbankan masih mendapat sentiment negatif dari Bank Indonesia yang memaksa perbankan untuk menurunkan margin. Jadi, sejauh ini arah market masih tak pasti dan tergantung pada bagaimana sinyal dari AS. Jika positif, di mana Dow Jones tembus resistance 11.400, tutup mata beli saham apa saja.

Support dan resistance IHSG sendiri?

Support IHSG di level 3.600 dan resistance 3.675. Jika indeks bisa tutup di atas resistance 3.675, tren turun jangka pendek sudah selesai. Artinya, IHSG akhir tahun bisa tutup di atas 3.900. Jika ternyata tutup di level 4.000, itu merupakan bonus.

Tapi, angka itu tergantung pada apakah indeks bisa mengakhiri resistance 3.675 atau tidak. Selama tidak ada penembusan resistance tersebut, ada potensi pelemahan ke level support 3.525. Jika begitu, investor lebih baik cari aman. Wait and see saja. Jika indeks masih dalam tren bearish jangka pendek, kalau mau mengambil posisi pilih saham berfundamental positif, sehingga saat IHSG rebound, saham-saham tersebut juga lebih cepat naik.

Tapi, jika market dalam tren turun, saham-saham yang dipegang bakal benar-benar nyangkut. Sebab, IHSG masih punya potensi turun ke level 3.300-an. Selama indeks masih di atas support 3.525, arah IHSG masih naik untuk jangka menengah. Jadi, tren jangka pendek IHSG adalah turun. Tapi, tren jangka menengah-panjang masih naik selama support 3.525 tidak ditembus.

Kalau begitu, bagaimana strategi trading yang tepat?

Saya rekomendasikan strategi trading hit and run. Tapi, jika resistance 3.675 berhasil ditembus, saham apapun juga, selama koreksinya sudah signifikan antara 5-15% dalam dua pekan terakhir, wajib dibeli. Sebab, dipastikan rebound.

Bahkan, saham-saham lapis ketiga seperti PT Bukit Sentul City (BKSL), PT Energi Mega Persada (ENRG), dan PT Darma Henwa (DEWA). Begitu juga PT Bumi Resources (BUMI), PT Adaro Energy (ADRO), PT Bukit Asam (PTBA), PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA). Jika tren turun IHSG berakhir, saham apa saja beli semua, terutama saham yang sudah terkoreksi tajam 5-15% dalam dua pekan terakhir.
READ MORE - Dow Jones Tembus 11.400, Tutup Mata Beli Saham >

INILAH.COM, Jakarta - Negara-negara Barat menghadapi misi yang mustahil (mission impossible) dalam menekan jumlah pengangguran yang melambung, tekanan inflasi, dan nilai tukar yang berkontraksi.

"Negara-negara maju tengah menghadapi paradosk kebijakan. Mereka butuh inflasi untuk melepaskan diri dari lilitan utang, namun deflasi dibutuhkan untuk meningkatkan produksi dan lapangan kerja oleh perusahaan," papar ekonom global senior HSBC Karen Ward kepada CNBC.com, seperti dikutip Rabu (30/11).

Menurutnya, satu-satunya jalan tengah untuk kedua pihak dalah dengan menurunkan nilai tukar riil di negara maju. "Kalau kita tidak melakukan penyesuaian kurs, maka kita akan dihadapkan pada pertumbuhan ekonomi yang stagnan dalam jangka panjang, pengangguran yang tinggi, dan ketidakpastian yang berlanjut." tuturnya.

Kebijakan stimulus moneter berupa pelonggaran kuantitatif (quatitative easing) yang dilakukan AS dan bank sentral Inggris dalam beberapa bulan terakhir memiliki 'tujuan tersembunyi' untuk menurunkan nilai tukar yang bisa merugikan negara-negara berkembang.

"Di negara maju kita bisa menggunakan quantitative easing dengan menurunkan nilai mata uang, seperti yang kita lihat dalam dua tahun terakhir. Di negara berkembang, mereka enggan menerima kebijakan tersebut," tuturnya.

Selain itu, adanya ketegangan yang meningkat antara AS dan China dengan meningkatnya tagihan dagang AS terhadap China. Ward mengingatkan, hal ini tidak berdampak baik dalam jangka panjang dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi global.

"Ini tidak baik. Kita terus ditarik dalam permasalahan-permasalahan global ini dan pertumbuhan ekonomi global tidak akan pulih, sampai kita mendapatkan titik keseimbangan perekonomian global dan penyesuaian kurs sangat diperlukan," paparnya.

Ia menilai, solusi ideal adalah negara-negara maju mau sedikit bersabar dan membiarkan mata uang negara berkembang terapresiasi. Sayangnya, mesin politik bisa menggagalkan skenario ini.

Ia merasa khawatir dengan sikap politisi yang tidak sabar, khususnya di AS sehubungan dengan adanya pemilu 2012, akan menambah masalah. "Ini akan lebih baik bila kita tetap berdamai dalam sistim global," pungkasnya.
READ MORE - AS Tekan Pengangguran Bagai 'Mission Impossible' >

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...