Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

PERAN MANAJEMEN KEUANGAN

Posted by Artikel Menarik | 8:43 AM | | 0 comments »

Manajemen keuangan merupakan menajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Fungsi-fungsi keuangan tersebut meliputi begaimana memperoleh dana (raising of fund) dan bagaimana menggunakan dana tersebut (allocation of fund). Manajer keuangan berkepentingan dengan penentuan jumlah aktiva yang layak dari investasi pada berbagai aktiva dan memilih sumber-sumber dana untuk membelanjai aktiva tersebut. Untuk memperoleh dana, manajer keuangan bisa memperolehnya dari dalam maupun luar perusahaan. Sumber dari luar perusahaan berasal dari pasar modal, bisa berbentuk hutang atau modal sendiri.

Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung jawab manajer keuangan. Tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi keputusan berinvestasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian deviden suatu perusahan, dengan demikian tugas manajer keuangan adalah merencanakan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Kegiatan penting lainnya yang harus dilakukan manajer keuangan menyangkut empat aspek yaitu :
  1. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer lainnya yang bertanggung jawab atas perencanaan umum perusahaan.
  2. Manajer kuangan harus memusatkan perhatian pada berbagai keputusan investasi dan pembiayaan, dan berbagai hal yang berkaitan dengannya
  3. Manajer keuangan harus bekerjasama dengan para manajer di perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi seefisien mungkin
  4. Manajer keuangan harus mampu menghubungkan perusahaan dengan pasar keuangan, dimana perusahaan dapat memperoleh dana dan surat berharga perusahaan dapat diperdagangkan.
Aspek penting lain dari tujuan perusahaan dan tujuan manajemen keuangan adalah pertimbangan terhadap tanggung jawab sosial yang dapat dilihat dari empat segi yaitu :
  1. Jika manajemen keuangan menuju pada memeksimalisasi harga saham, maka diperlukan manajemen yang baik dan efisien sesuai dengan permintaan konsumen.
  2. Perusahaan yang berhasil selalu menempatkan efisiensi dan inovasi sebagai prioritas, sehingga menghasilkan produk baru, penemuan teknologi baru dan perluasan lapangan pekerjaan
  3. Faktor-faktor luar seperti pencemaran lingkungan, jaminan keamanan produk dan keselamatan kerja menjadi lebih penting untuk dipertimbangkan. Fluktuasi disemua tingkat kegiatan bisnis dan perubahan-perubahan yang terjadi pada kondisi pasar keuangan merupakan aspek penting dari lingkungan luar.
  4. Kerjasama antara industri dan pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan peraturan yang mengatur tentang perilaku perusahaan, dan sebaliknya perusahaan mematuhi peraturan tersebut. Tujuan perusahaan pada dasarnya adalah memeksimumkan nilai perusahaan dengan pertimbangan teknis.
Pada dasarnya tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan nilai perusahaan. Akan tetapi dibalik tujuan tersebut masih terdapat konflik antara pemilik perusahaan dengan penyedia dana sebagai kreditur. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat, sedangkan nilai hutang perusahaan dalam bentuk obligasi tidak terpengaruh sama sekali. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai dari saham kepemilikan bisa merupakan indeks yang tepat untuk mengukur tingkat efektifitias perusahaan. Berdasarkan alasan itulah, maka tujuan manajemen keuangan dinyatakan dalam bentuk maksimalisasi nilai saham kepemilikan perusahaan, atau memaksimalisasikan harga saham. Tujuan memaksimumkan harga saham tidak berarti bahwa para manajer harus berupaya mencari kenaikan nilai saham dengan mengorbankan para pemegang obligasi.
READ MORE - PERAN MANAJEMEN KEUANGAN >

Sebuah perusahaan mengimplementasikan sebuah Strategi Diversifikasi Korporat ketika perusahaan itu beroperasi pada industri-industri atau pasar-pasar yang beraneka ragam secara bersamaan. Strategi Diversifikasi Produk diimplementasikan ketika perusahaan tersebut beroperasi pada industri-industri yang beraneka ragam secara bersamaan sedangkan Strategi Diversifikasi Pasar Geografis diimplementasikan oleh perusahaan yang beroperasi pada pasar-pasar geografis yang beraneka ragam secara bersamaan. Jika kedua strategi diversifikasi tersebut digabung, akan menghasilkan Strategi Diversifikasi Pasar-Produk.

Tipe Diversifikasi Korporat ada tiga macam, yaitu :
  1. Diversifikasi Korporat Terbatas, yang terjadi ketika semua atau hampir semua dari aktivitas-aktivitas perusahaan berlangsung pada sebuah industri dan pasar geografis tunggal terdiri atas dua subtipe, yaitu : (a) Perusahaan-perusahaan bisnis tunggal (95% atau lebih dari pendapatan perusahaan berasal dari sebuah pasar produk tunggal), (b) Perusahaan-perusahaan bisnis dominan (antara 70% dan 95% dari pendapatan perusahaan berasal dari sebuah pasar produk tunggal)
  2. Diversifikasi Korporat Terkait, yang terjadi ketika kurang dari 70% pendapatan perusahaan berasal dari sebuah pasar produk tunggal dan jalur-jalur bisnis yang beraneka ragam ini dihubungkan, terdiri atas : (a) Related Constrained yaitu kurang dari 70% pendapatan perusahaan berasal dari sebuah bisnis tunggal dan bisnis-bisnis yang berbeda saling berbagi hubungan dan atribut, (b) Related Linked yaitu kurang dari 70% pendapatan perusahaan berasal dari sebuah bisnis tunggal dan bisnis-bisnis yang berbeda hanya berbagi sedikit hubungan dan atribut atau hubungan-hubungan dan atribut-atribut yang berbeda.
  3. Diversifikasi Korporat Tak Terkait : kurang dari 70% pendapatan perusahaan berasal dari sebuah bisnis tunggal dan ada sedikit hubungan-hubungan atau atribut-atribut diantara bisnis.
Economies of Scope terjadi pada sebuah perusahaan ketika nilai produk-produk atau jasa-jasa yang dijualnya meningkat sebagai sebuah fungsi dari jumlah bisnis-bisnis yang perusahaan jalankan. Economies of Scope bernilai sejauh mana Economies of Scope meningkatkan pendapatan sebuah perusahaan atau menurunkan biayanya dibandingkan jika Economies of Scope tidak digunakan.

Diversifikasi korporat agar secara ekonomis mempunyai nilai, maka harus terdapat dua kondisi yaitu :
  1. harus ada beberapa Economies of Scope yang bernilai diantara bisnis-bisnis yang beraneka ragam dimana sebuah perusahaan beroperasi.
  2. harus lebih murah bagi para manajer pada sebuah perusahaan untuk merealisasikan Economies of Scope ini daripada untuk para pemilik modal luar perusahaan pada modal milik mereka sendiri.
Tipe Economies of Scope ada empat yaitu :
1. Operational Economies of Scope
  • Shared Activities, sebuah aktivitas fisik yang sama digunakan oleh lebih dari satu fungsi bisnis pada sebuah perusahaan yang terdiversifikasi.
  • Core Competencies, sebuah aktivitas non fisik yang sama digunakan oleh lebih dari satu fungsi bisnis pada sebuah perusahaan yang terdiversifikasi.
2. Financial Economies of Scope
  • Internal Capital Allocation, fungsi-fungsi bisnis pada sebuah perusahaan yang terdiversifikasi bersaing untuk mendapatkan modal korporat yang dialokasikan kepada mereka.
  • Risk Reduction, tingkat risiko dari arus kas perusahaan-perusahaan yang terdiversifikasi lebih rendah daripada tingkat risiko dari arus kas perusahaan-perusahaan yang tidak terdiversifikasi.
  • Tax Advantages, sebuah perusahaan yang terdiversifikasi dapat menggunakan kerugian-kerugiannya pada beberapa bisnis-bisnisnya untuk meng-offset laba pada beberapa bisnis yang lainnya sehingga mengurangi kewajiban pajak keseluruhannya.
3. Anticompetitive Economies of Scope
  • Multipoint Competition, terjadi ketika dua atau lebih perusahaan yang terdiversifikasi secara bersamaan berkompetisi di pasar-pasar yang beraneka ragam. Multipoint Competition dapat menyebabkan timbulnya Mutual Forbearance yang berarti menahan diri dari kompetisi karena nilai sekarang dari keuntungan yang diperoleh perusahaan- perusahaan yang berkompetisi tidak lebih besar daripada nilai sekarang dari kerugian yang diderita oleh perusahaan-perusahaan yang berkompetisi tersebut.
  • Exploiting Market Power, perusahaan dapat menggunakan sebagian laba monopoli suatu lini bisnis tertentu dari perusahaan tersebut untuk memberi subsidi pada operasi lini bisnis lainnya yang sebelumnya kurang menguntungkan sehingga lini bisnis yang disubsidi tersebut dapat menghasilkan laba monopoli pula.
4. Employee and Stakeholder Incentives for Diversification
Para karyawan terutama para manajernya, berusaha meningkatkan ukuran perusahaan biasanya diukur dalam nilai penjualan, yang menjadi penentu besaran kompensasi bagi mereka. Salah satu caranya adalah melalui diversifikasi terutama Strategi Diversifkasi Korporat Tak Terkait berupa merger dan akuisisi.

Shared Activities, Core Competencies, Multipoint Competition, dan Exploiting Market Power. Seluruhnya membutuhkan koordinasi aktivitas-aktivitas bisnis yang mendetail antar bisnis-bisnis yang beraneka ragam pada sebuah perusahaan. Walaupun para pemilik modal mungkin memiliki sebuah portofolio equitas, mereka tidak dalam posisi untuk mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas bisnis dalam portofolio tersebut. Dengan cara yang sama, Internal Capital Allocation membutuhkan informasi tentang prospek-prospek bisnis yang tidak secara sederhana tersedia bagi para pemilik modal luar perusahaan tersebut. Kelima Economies of Scope tersebut di atas tidak dapat direalisasikan oleh para pemilik modal luar perusahaan pada modal milik mereka sendiri.

Dua Economies of Scope yang tidak berpotensi untuk menghasilkan pengembalian yang positif untuk para pemegang saham sebuah perusahaan adalah diversifikasi untuk memaksimalisasikan ukuran sebuah perusahaan-karena ukuran perusahaan, pada hakekatnya, tidak bernilai-dan diversifikasi untuk mengurangi risiko-karena para pemegang saham dapat melakukan ini pada modal milik mereka sendiri pada biaya rendah dengan menginvestasikannya secara mudah dalam sebuah portofolio saham yang terdiversifikasi.

Analisa dasar-dasar diversifikasi yang mungkin menganjurkan bahwa Related Diversification lebih mungkin konsisten dengan kepentingan-kepentingan para pemegang saham sebuah perusahaan daripada Unrelated Diversification. Ini karena Risk Reduction yang merupakan Economies of Scope termudah bagi para pemegang luar perusahaan untuk menirunya adalah Economies of Scope satu-satunya yang sebuah perusahaan terdiversifikasi secara Unrelated Diversification dapat mencoba untuk merealisasikannya.

Kelangkaan dari diversifikasi

Pada pertentangan pertama, tampak jelas bahwa diversifikasi itu sendiri biasanya bukanlah strategi perusahaan yang langka. Kebanyakan perusahaan besar telah menerapkan beberapa bentuk dari diversivikasi, hanya jika diversifikasi yang terbatas dari sebuah perusahaan bisnis yang dominan. Bahkan banyak perusahaan kecil dan menengah telah menerapkan level – level berbeda dari diversifikasi.

Walau demikian, kelangkaan dari diversivikasi tergantung tidak pada diversifikasi itu sendiri tapi pada seberapa langka economies scope tertentu dikaitkan dengan diversivikasi. Jika hanya sedikit perusahaan yang bersaing telah memanfaatkan economy of scope tertentu, maka economy scope tersebut dapat menjadi langka. Tetapi Jika banyak perusahaan melakukan hal tersebut maka akan menjadi suatu hal yang biasa dan tidak menjadi sumber competitive advantage.

Dalam diversifikasi, kemampuan meniru terdapat 2 bentuk yaitu :

A. Duplikasi langsung dalam diversifikasi

Perluasan dalam suatu nilai dan strategi coorporate diversifkasi yang jarang adalah kebebasan dari duplikasi langsung yang bergantung pada bagaimana biaya itu untuk perusahaan yang bersaing

Secara nyata dalam scope ekonomi yang sama. Dalam aktivitas yang dilakukan secara bersama-sama. Pengurangan resiko, keuntungan pajak,kompensasi pekerja di dasarkan untuk coorporate diversifikasi yang biasanya relatif mudah untuk diduplikasi alasannya karna aktifitas bersama didasarkn pada aset yang berbentuk sebuah persahaan dapat memanfaatkan multiple bisnis.

Selain itu, karna pengurangan resiko. Keuntungan pajak dan kompensasi pegawai adalah motif untuk diversifikasi yang dapat diselesaikan dari hubungan keduanya dan diversifikasi yang tidak ada hubungannya kemudian motif diversifikasi cendrung relatif mudah untuk di dulicate.

B. Substitusi untuk diversifikasi, terbagi menjadi 2 yaitu :
  1. perolehan biaya atau keuntungan pendapatan dari memanfaatkan scope ekonomi bisnis yang berbeda pada perusahaan yang berbeda. Sebuah perusahaan yang sukses dapat mengimplementasikan strategi kepemimpian biaya atau produk diversifikasi dalam single bisnis yang memanfaatkan biaya atau keuntungan pendapatan yang sama hal ini dilakukan dengan prinsip scope ekonomi
  2. memanfaatkan scope ekonomi dalam diversifikasi yang dapat mendukung strategi perusahaan penggunaan strategi allians perusahan mungkin dapat berkembang dengan memanfaatkan scope ekonomi sacara hati-hati dalam bisnis yang berbeda
kedua bentuk ini sangat relevan dalam mengevaluasi kemampuan strategi diversifikasi untuk menghasilkan keuntungan persaingan secara terus- menerus bahkan jika scope ekonomi yang telah mereka hasilkan telah jarang

Economies of scope yang dapat direalisasi melalui international operations

Dalam konteks international strategi corporate diversifikasi dapat menghasilkan competitive advantage bagi perusahaan, selain menghasilkan competitive advantage perusahaan juga menghadapi risiko dalam menerapkan strategi ini.

Dua risiko yang di hadapi oleh perusahaan ketika mumutuskan untuk menerapkan strategi diversifikasi corporate dalam international context dapat berupa risiko finansial dan risiko politik.
1. Risiko Financial, terjadi karena :
  • Fluktuasi Mata Utang, yang dapat mempengaruhi investasi perusahaan. Fluktuasi ini dapat mengakibatkan keuntungan tambahan bagi investasi maupun kerugian karena penurunan nilai investasi karena fluktuasi mata uang.
  • Perbedaan Tingkat Bunga Inflasi, yang mengharuskan perusahaan untuk menerapkan praktek-praktek pendekatan menajerial yang kompleks, strategi bisnis, dan praktik akuntansi yang kompleks.
Financial risk ini dapat menjadi sangat menakutkan bagi perusahaan yang baru ingin masuk dalam kancah international.

2. Risiko Politik
Keadaan politik dapat mempengaruhi nilai investasi perusahaan, baik secara makro maupun mikro.
READ MORE - DIVERSIFIKASI KORPORAT (CORPORATE DIVERSIFICATION) >

Sebuah Strategi Alliansi atau Persekutuan adalah dimana dua atau lebih perusahaan atau organisasi independen yang bekerja sama dalam pengembangan, manufaktur, atau menjual produk atau jasa.

Strategic Alliances dikelompokkan menjadi 3 kategori:
  1. Nonequity Alliances
  2. Equity Alliances
  3. Joint Venture

Nonequity Alliances adalah dimana perusahaan-perusahaan setuju untuk bekerja sama dalam mengembangkan, manufaktur, atau menjual produk atau jasa, tetapi mereka tidak mengambil kekayaan masing-masing atau bentuk sebuah unit organisasi independen untuk mengatur usaha bersama mereka.
Macam-macam perjanjian dalam nonequity alliances:
  1. Licensing Agreements, dimana salah satu perusahaan mengikuti perusahaan yang lain untuk menggunakan nama merknya dalam penjualan produk.
  2. Supply Agreements, dimana salah satu perusahaan menyetujui untuk men-supply ke perusahaan yang lainnya.
  3. Distrubutions Agreements, dimana salah satu perusahaan menyetujui untuk mendistribusikan produknya ke perusahaan yang lainnya.

Equity Alliances adalah dimana perusahaan-perusahaan bekerjasama dengan mengadakan perjanjian mengenai hak kekayaan saham dalam partner persekutuan.
Joint Venture adalah dimana perusahaan-perusahaan bekerja sama mendirikan sebuah perusahaan independen yang legal dengan investasi masing-masing sehingga dapat menghasilkan laba.
Strategi aliansi menambah nilai dengan mengeksploitasi peluang dan menetralisir ancaman yang ada pada perusahaan.

Opportunity yang penting untuk dieksploitasi adalah:
1. Membantu perusahaan untuk mengembangkan dalam performance operasi umum
  • mengeksploitasi economies of sale
  • mempelajari dari competitor
  • memanage risiko dan membagi cost
2. Menciptakan lingkungan favorable yang kompetitif intuk memaksimalkan performance
  • memfasilitasi pengembangan standar teknologi
  • mengurangi pelanggaran
3. Memfasilitasi entry dan exit
  • masuk dalam industri baru dengan low cost
  • keluar dari industri dengan low cost
  • memanage ketidakpastian
  • masuk dalam pasar baru dengan low cost
Mengembangkan Current Operations
Salah satu cara adalah dengan mewujudkan economies of sale, cost produksi per unit yang berbanding terbalik dengan volume produksi, untuk dapat mewujudkannya perusahaan harus mempunyai volume produksi yang besar atau mempunyai volume produksi yang cukup sehingga penghematan cost dapat terwujud.

Perusahaan kadang-kadang mampu melaksanakan dan kadang-kadang tidak mampu melaksanakan, saat perusahaan tidak dapat melakukan saving cost dari economies of sale oleh dirinya, maka dibolehkan bergabung dalam strategic alliance dengan perusahaan lain sehingga perusahaan memiliki cukup volume untuk dapat meningkatkan cost advantages dari economies of sale.

Untuk mewujudkan economies of scale, perusahaan dapat bergabung dengan perusahaan lain sebagai partner kerjanya. Hal ini disebabkan karena untuk mencapai economies of scale dibutuhkan volume produksi yang besar, agar volume produksi perusahaan besar maka perusahaan tersebut harus mendominasi industrinya. Pada umumnya satu perusahaan tidak mampu mendominasi industri, salah satunya disebabkan oleh adanya regulasi dari pemerintah yang anti monopoli. Walaupun teknologi merupakan bagian istimewa bagi perusahaan pada umumnya, tidak ada satu perusahaan yang mampu menghasilkan demand yang cukup dalam mewujudkan economies of scale, sehingga pada keadaan seperti itulah perusahaan boleh bekerja sama untuk membentuk sebuah aliansi yang berguna untuk mewujudkan economies of scale.

Cara yang lain dalam mengembangkan current operations yaitu belajar dari competitor. Tiap-tiap perusahaan mempunyai sumberdaya dan kemampuan yang berbeda, dari sumberdaya yang dimiliki dapat menjadi competitive advantages bagi perusahaan dibanding dengan perusahaan lain.
Perusahaan yang mempunyai competitive advantages untuk mempelajari resources dan capabilities mereka, disaat masing-masing dari perusahaan mempelajari sesuatu dari aliansi tersebut, maka terjadilah konflik yang dinamakan dengan “ a learning race”.

Cara yang terakhir dalam mengembangkan current operations adalah berbagi biaya dan risiko jika perusahaan memproduksi sendiri sebuah produk, tidak hanya akan mengeluarkan biaya yang besar tetpi juga akan menanggung risiko yang besar. Jadi dengan aliansi, maka biaya yang besar tersebut dapat dibagi dengan perusahaan lain, begitu pula dengan risiko kegagalannya.

Menciptakan suatu lingkungan Kompetitif yang Baik
Perusahaan dapat menggunakan strategi aliansi untuk menciptakan sebuah lingkungan competitive yang lebih kondusif untuk performance pemimpin.
  • Kemudahan mengembangkan standar teknologi
Perusahaan dapat menggunakan aliansi untuk membantu mengatur standar teknologi dalam industri. Dengan standar ini, produk yang berbasis teknologi dapat dikembangkan dan konsumen dapat percaya bahwa produk yang mereka beli akan berguna untuk beberapa waktu yang akan datang.
Perusahaan membentuk strategi aliansi dengan tujuan mengevaluasi dsn memilih sebuah standar teknologi. Dengan menetapkan standar ini, teknologi dapat dijalankan pada produk yang konsumen sukai agar produk tersebut dibeli, karena konsumen akan mengetahui bahwa mereka akan sesuai dengan standar industri pada saat itu. strategi alliansi ini dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan kompetitif yang lebih baik(menguntungkan).
  • Facilitating tacit collusion
Collusion terjadi ketika 2 atau lebih perusahaan dalam sebuah industri mengkoordinasikan pilihan strategi mereka untuk mengurangi persaingan dalam industri. Pengurangan persaingan ini membuat nya lebih mudah untuk meningkatkan performa perusahaan.
Collusion terjadi ketika perusahaan mengkoordinasikan produksi dan penentuan harga mereka tidak dengan komunikasi langsung dengan yang lainnya, tapi dengan pertukaran sinyal dengan perusahaan lain mengenai maksud mereka untuk bekerja sama

Kemudahan masuk dan keluar
Aliansi strategi menyajikan banyak kemudahan bagi perusahaan yang akan memasuki pasar global.
Cara terakhir bahwa strategi aliansi dapat digunakan untuk menciptakan nilai adalah dengan kemudahan sebuah perusahaan masuk ke dalam sebuah pasar baru atau industri atau keluar dari sebuah pasar atau industri. Strategi aliansi cukup bernilai ketika nilai pasar masuk atau keluar tidak pasti.
  • Low-cost masuk ke dalam industri dan segmen industri baru
Salah satu cara strategi aliansi yang dapat digunakan untuk menciptakan nilai adalah dengan kemudahan perusahaan untuk memasuki industri baru. Untuk dapat masuk dalam sebuah industri dibutuhkan skill, kemampuan dan produk yang potensial.
Strategi aliansi dapat membantu perusahaan untuk dapat masuk ke sebuah industri baru dengan menghindari kos yang tinggi terhadap penciptaan skill, kemampuan dan produk.

Misalnya, akhir-akhir ini Du Pont ingin masuk ke dalam industri elektronik. Akan tetapi, membangun skil dan kapbilitas yang dibutuhkan untuk mengembangkan produk yang kompettif dalam industri ini sangat sulit dan mahal. Lebih dari itu terhadap penyerapan kos, Du Pont mengembangkan strategi aliansi dengan mendirikan perusahaan elektronik untuk mendistribusikan beberapa produk Philips di Amerika serikat. Dengan cara ini, Du Pont dapat masuk ke dalam industri baru tanpa harus menyerap semua biaya untuk menciptakan sumberdaya elektronik dan kapabilitas.
Tentunya, untuk Joint venture yang sukses, Philips harus bekerjasama secara intensive dengan du Pont. Dimana Du Pont berusaha mengurangi kos masuk ke dalam industri baru. Philips berusaha untuk mengurangi kos untuk melanjutkan masuk ke dalam pasar baru, Amerika Serikat. Philips mengandakan aliansi dengan Du Pont untuk menjual di Amerika CD yang siap dipasarkan ke Eropa.
  • Low-cost keluar dari industri dan segmen industri
Beberapa perusahaan menggunakan strategi aliansi sebagai sebuah mekanisasi untuk keluar dari industri atau segmen industri dengan cara biaya yang rendah . Perusahaan termotivasi untuk keluar dari sebuah industri atau segmen industri ketika tingkat performan mereka dalam bisnis kurang dari apa yng diharapkan dan ketika ada sedikit prospek perbaikan. Pada saat perusahaan ingin keluar industri atau segmen industri maka perlu mengatur assetnya untuk bersaing dalam industri atau segmen-segmen industri baru. Asset ini mencakup sumberdaya dan kemampuan yang nyata seperti pabrik, pusat distribusi dan teknologi produk, dan intangiblel resurces dan kapabilitas seperti, brand name, relationship dengan supplier dan konsumen, loyalitas dan komitmen tenaga kerja dst.
  • Memanage ketidakpastian
Pada akhirnya perusahaan mungkin menggunakan strategi aliansi untuk mengatur ketidakpastian. Pada kondisi ketidakpastian yang tinggi perusahaan tidak mampu untuk memberitahukan point khusus dalam waktu berapa perbedaan strategi yang harus mereka kejar.
  • Masuk kedalam pasar baru dengan low cost
Perusahaan diberikan beberapa alternative cara untuk memasuki pasar baru seperti ekspor,lisensi, waralaba,joint venture dan kepemilikan sepenuhnya bagi Negara tujuan.
Salah satu cara perusahaan dapat berpindah secara cepat ke dalam sebuah pasar baru adalah dengan joint venture. Dengan berinvestasi dalam joint venture perusahaan mungkin dapat mengakses informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi pasar baru.Dalam pendekatain untuk menganalisis strategi aliansi perusahaan.

Aliansi biasanya muncul ketika perusahaan mempunyai sumberdaya yang mampu memberi nilai agar dapat masuk ke bisnis baru, tetapi perusahaan membutuhkan aset dari perusahaan lain agar perusahaan dapat secara efektif menciptakan sumberdaya tersebut sebagai keunggulan kompetitif.

Alliance Threats: Incentives To Cheat On Strategic Alliances
Adverse Selection
Partner potensial tidak mempunyai skill, kemampuan dan sumberdaya yang lainya yang mereka bawa ke aliansi.

Moral Hazard
Partner memberikan skil dan kemampuan dengan kualitas yang lebih rendah daripada yang mereka janjikan.

Holdup
walaupun partner dalam aliansi tidak menggunakan baik adverse selection maupun moral hazard, kecurangan lain mungkin saja masih bisa terjadi. ketika sebuah strategi aliansi telah dibuat, partner perusahaan mungkin membuat investasi yang mempunyai nilai bagi aliansi dan tidak pada pertukaran ekonomi yang lain.

Strategic Alliances and Sustained Competitive Advantage
The rarity of strategic alliances
tidak hanya terpengaruh pada jumlah perusahaan yang sedang bersaing yang mempunyai kesiapan untuk mengimplementasikan aliansi. ini juga tergantung pada bagaimana perusahaan mendapat keuntungan dari aliansi mereka yang bersaing dalam industri. salah satu alasan mengapa keuntungan dapat bertambah dengan strategic aliansi yaitu masih sedikit perusahaan yang dapat memanfaatkan sumberdaya dan kemampuanya.
The imitability of strategic alliance.

Memerlukan pertimbangan dalam menganalis imitability of strategic alliance.

Direct duplication of strategic alliance:
Riset teralhir menyarankan bahwa kesuksesan dari alliance strategic ini sering berdasarkan hubungan social yang komleks antar partner persekutuan. Kepercayaan antar partner, pertemanan, ataupun kesediaan menahan kepentingan pribadi, yang nantinya akan mengarah kepada hubungan yang baik jangka panjang.

Alliances biasanya hancur atau gagal karena adanya partner yang tidak mempunyai kemampuan untuk mempercayai orang lain, berkomunikasi, toleransi, kesabaran, dan kesediaan dalam mengorbankan profit jangka pendek untuk kesuksesan jangka panjang.
Tentunya tidak semua organisasi mempunyai bangunan relationship yang baik. Skil yang baik sangat diperlukan dan ini tentunya juga memerlukan biaya yang mahal untuk mengembangkanya

Subtitutes for strategic alliances.
Meskipun strategic alliance sangat bernilai, jarang, mahal untuk ditiru namun bisa saja tidak memberikan keuntungan kompetitif jika tersedia pengganti yang lebih murah. Ada dua pengganti dari strategic alliance yang mungkin bisa dilakukan, yaitu “going it alone” dan akuisisi.

“going it alone” ketika perusahaan berusaha untuk mengembangkan semua sumberdaya dan kemampuan yang mereka perlukan untuk mengeksploitasi peluang pasar dan menetralisir gangguan dengan kemampuan sendiri.
Alliance akan lebih disukai daripada “going it alone” ketika:
  1. Level spesifik transaksi investasi diminta untuk melengkapi sebuah pertukaran moderat.
  2. Sebuah pertukaran partner proses bernilai, jarang dan mahal untuk ditiru sumberdayanya dan kemampuanya.
  3. Terdapat ketidakpastian yang besar tentang nilai masa depan dari sebuah pertukaran.

Akuisisi
Alliansi akan lebih dipilih daripada akuisisi jika:
  1. Terdapat hambatan hokum dalam akuisisi.
  2. Akuisisi membatasi fleksibilitas perusahaan dibawah kondisi ketidakpastian.
  3. Nilai sumberdaya perusahaan dan kemampuanya tergantung pada kebebasanya.

Organizing to implement strategic alliance
Explicit contracts and legal sanction
salah satu cara untuk mencegah kecurangan dalam strategi aliansi adalah dengan adanya kontrak eksplisit yang menentukan kewajiban legal jika suatu kecurangan terjadi.

Equity investments
keefektivan kontrak dapat ditingkatkan dengan mempunyai partner dalam aliansi dan saling berinvestasi satu sama lain.

Firm reputations
Batasan ketiga atas perangsang penipuan dalam persekutuan strategis yaitu adanya efek bahwa reputasi penipuan akan berakibat pada peluang masa depan suatu perusahaan. Meskipun begitu, relatif sulit untuk mengantisipasi semua perbedaan antar mitra persekutuan yang mungkin melakukan penipuan. Penipuan dalam suatu persekutuan dapat menutup peluang atau kesempatan untuk mengembangkan nilai persekutuan. Karena alasan inilah, perusahaan mungkin memutuskan untuk tidak melakukan penipuan dalam persekutuan mereka sekarang ini.

Reputasi control atas penipuan dalam aliansi strategic mempunyai beberapa batasan.
  1. penipuan susah dipisahkan dalam aliansi strategic dan dampaknya reltif lebih sedikit pada reputasi perusahaan atau kemampuan perusahaan untuk menetapkan persekutuan dimasa yang akan datang.
  2. meskipun satu mitra dalam suatu persekutuan mungkin mengkhianati hubungan secara terang-terangan, satu atau kedua perusahaan mungkin tidak cukup terhubung ke dalam suatu jaringan dengan perusahaan lain untuk membuat informasi umum.
  3. terakhir, efek dari suatu reputasi yang dihilangkan, sepanjang penipuan dalam suatu persekutuan adalah terang-terangan dan diketahui oleh public, mungkin dapat menutup peluang atau kesempatan perusahaan di masa yang akan datang, tetapi itu hanya sebagian kecil yang menunjukkan kerugian pada saat ini oleh perusahaan yang ditipu.

Joint Ventures

Cara ke empat untuk mengurangi ancaman penipuan adalah memanamkan modal dalam suatu usaha patungan untuk mitra dalam suatu aliansi strategic. Menciptakan suatu badan hukum terpisah, di mana aliansi partner menginvestasikan dan mendapatkan keuntungan atas investasi mereka, mengurangi sebagian resiko penipuan dalam aliansi strategic.Ketika suatu joint venture diciptakan, kemampuan mitra untuk mendapat kembalian atas investasi mereka tergantung pada kesuksesan ekonomi dari joint venture.

Perolehan keuntungan dari joint venture dalam mengendalikan penipuan, itu tidaklah mengejutkan bahwa ketika kemungkinan menipu dalam suatu hubungan yang cooperative itu berhasil.
Joint venture biasanya lebih menyukai bentuk cooperation, meskipun begitu transaksi atas spesifik investment akan mendorong ke arah pemasalahan holdup yang signifikan atas penjualan kelebihan bauksit di pasar terbuka dan undang-undang dapat mencegah pengadaan peusahaan lain untuk menciptakan suatu permintaan intraorganisasional untuk kelebihan bauksit.

Permasalahan holdup akan berlanjut dalam pekerjaan tambang manapun dalam suatu aliansi strategic yang mungkin diciptakan. Banyak aliansi strategic diciptakan untuk mendapatkan bauksit dalam bentuk joint venture. Hanya bentuk ini, aliansi strategic mungkin menciptakan perangsang yang cukup kuat dan mantap untuk mengurangi kemungkinan adanya penipuan, karena laba yang didapat dari usaha lain mungkin mempunyai nilai yang lebih besar dibandingkan return yang didapat dari joint venture dan kembalian yang mungkin didapat dimasa yang akan datang dengan aliansi stategis lain, sehingga penipuan bisa saja terjadi.

Trust

Kepercayaan sering menjdi kasus ketika mitra persekutuan hanya mempercayakan pada pendekatan ekonomi dan sesuai dengan hukum untuk mengatur persekutuan mereka. Bagaimanapun, pekerjaan terbaru menyatakan bahwa kesuksesan dari aliansi partner tidak akan mengabaikan undang-undang yang sah dan penolakan ekonomi untuk melakukan penipuan, mereka benar-benar mendukung pertalian suatu hubungan antar personal dan kepercayaan. Kepercayaan dikombinasikan dengan kontrak yang dapat membantu mengurangi ancaman dalam penipuan.

Pengamatan dari beberapa perusahaan, termasuk Corning dan Cisco bahwa kesuksesan strategi aliansi mereka adalah konsisten dengan pengamatan tentang ketrampilan manajemen aliansi yaitu valuable, rare, dan costly to imitate.

Strategic Alliances in an international context

Pengembangan jaingan distibusi lokal merupakan suatu proses yang sulit dan mahal, seperti biasanya memerlukan banyak pengetahuan tentang kondisi-kondisi lokal. Local aliansi partner mungkin telah menguasai pengetahuan ini. Mereka mungkin mempunyai hubungan distribusi lokal disuatu tempat dengan bekerja sama dengan partner lokal, perusahaan pada hakikatnya dapat mengurangi ongkos masuk ke dalam pasar ini.

Tentu saja, beberapa pemerintah memerlukan anggota baru untuk menjadi partner aliansi lokal. Pemerintah melihat separti hubungan yang tidak hanya sebagai jalan untuk memudahkan perusahaan asing masuk kedalam pasar mereka, tetapi juga sebagai sarana bagi perusahaan domestik untuk belajar dari perusahaan asing.

Semua ancaman potensial dalam aliansi, seperti dari resiko moral, dari perampokan yang ada dalam konteks internasional. Meskipun kasus ini sering menjadi informasi penting yang asimetris antar perusahaan dalam suatu persekutuan. Asimetris ini akan nampak ketika partner aliansi datang dari negara berbeda, beroperasi dalam budaya yang berbeda dan berbicara dengan bahasa yang berbeda pula.

READ MORE - STRATEGI ALLIANSI atau PERSEKUTUAN (STRATEGIC ALLIANCES) >

STRUKTUR MODAL dan LEVERAGE

Posted by Artikel Menarik | 8:39 AM | | 0 comments »

Struktur Modal Sasaran

adalah kombinasi antara utang, saham preferen, dan saham ekuitas yang digunakan perusahaan untuk merencanakan mendapatkan modal.

Kebijakan struktur modal melibatkan adany suatu pertukaran antara resiko dalm pengambilan :
  • Pengunaan lebih banyak utang akan meningkatkan resiko yang ditanggung oleh para pemegang saham
  • Namun penggunaan utang yang lebih besar biasanya akan menyebabkan terjadinya eskpektasi tingkat pengembalian atas ekuitas yang lebih tinggi
Resiko yang lebih tinggi akan menurunkan harga saham, tetapi eskpektasi tingkat pengembalian yang lebih tinggi akan kenikannya. Karena itu, struktur modal yang optimal harus mencapai suatu keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga dapat memaksimalkan harga saham perusahaan.

Empat factor yang dapat mempengaruhi keputusan struktur modal adalah :
  1. Resiko bisnis
  2. Posisi perpajakan
  3. Fleksibilitas keuangan
  4. Konservatisme atau keagresifan manajemen
Resiko Bisnis dan Keuangan
Resiko bisnis adalah tingkat resiko yang inhern di dalam operasi sebuah perusahaan jika perusahaan tidak memiliki utang

ROIC = NOPAT/Modal
=(Laba pemegang saham biasa + pembayaran bunga setelah pajak) / Modal
NOPAT disini adalah laba operasi bersih setelah pajak dan modal adalah jumlah dari utang dan ekuitas biasa saham.
Jika perusahaan tidak memiliki utang maka pembayaran bunganya akan nol, modalnya akan sama dengan ekuitas dan nilai ROICnya akan sama dengan pengambilan atas ekuitasnya, ROE :

ROIC (utang nol) = ROE = Laba bersih pemegang saham biasa/ekuitas biasa

Jadi, risiko bisnis perusahaan yang bebas pengungkitan (leverage free) dapat diukur oleh deviasi standar nilai ROEnya.

Resiko bisnis tergantung pada sejumlah factor, dimana factor-faktor yang penting adalah :
  1. Variabilitas perusahaan. Semakin stabil permintaan akan produk, jk hal ini dianggap konstan maka semakin rendah risiko bisnisnya.
  2. Variabilitas harga jual. Perusahaan yang menjual produknya di pasar yang tidak stabil terkena resiko bisnis yang lebih tinggi.
  3. Variabilitas biaya input. Perusahaan yang inputnya tidak pasti akan terkena resiko bisnis yang lebih tinggi.
  4. Kemampuan untuk menyesuaikan harga output untuk perubahan-perubahan pada biaya input. Semakin besar kemampuan menyesuaikan harga output untuk mencerminkan kondisi biaya, semakin randah resiko bisnisnya.
  5. Kemampuan untukmengembangkan produk-produk baru pada waktu yang tepat dan efektif dalam hal biaya. Semakin cepat produknya menjadi usang maka semakin besar resiko bisnisnya.
  6. Ekspour resiko asing. Perusahaan yang menghasilkan sebagian besar labanya dari operasi luar negeri dapat terkena penurunan laba akibat fluktuasi nilai tukar.
  7. Komposisi biaya tetap. Jika sebagian besar biayanya adalah biaya tetap sehingga akibat tidak mengalami penurunan ketika permintaan turun, maka tekena resiko bisnis yang relative tinggi.
Leverage Operasi
adalah tingkat sampai sejauh mana biaya-biaya tetap digunakan didalam operasi sebuah perusahaan.

Titik impas adalah jumlah output saat EBIT = 0
Kita dapat menghitung titik impas dengan mengetahui bahwa titik impas operasi terjadi ketika ROE = 0 atau ketika laba sebelum pajak (EBIT) = 0.3

EBIT = PQ - VQ – F = 0
Disini P adalah harga jual rata-rata per unit output, Q adalah unit output, V adalah biaya variable per unit dan F adalah biaya tetap per unit. Maka jika mencari
titik impas QBE = F / (P-V)

Resiko Keuangan
adalah tambahan resiko yang dibebankan kepada para pemegang saham biasa sebagai hasil dari keputusan untuk mendapatkan pendanaan melalui utang.

Leverage Keuangan
adalah tingkat sampai sejauh mana sekuritas dengan laba tetap (utang dan saham preferen) digunakan dalam struktur modal sebuah perusahaan.

Menentukan Struktur Modal Yang Optimal
Struktur modal optimal adalah struktur yang memaksimalkan harga dari saham perusahaan, dalam hal ini biasanya meminta rasio utang lebih rendah dari pada rasio yang memaksimalkan EPS yang diharapkan.

WACC dan Perubahan Struktur Modal
Para manajer hendaknya memilih struktur modal yang akan memaksimalkan harga saham perusahaan. Suatu perusahaan dalm struktur modal akan mempengaruhi harga saham adalah suatu hal yang sulit. Namun ternyata diketahui bahwa struktur modal yang dapat memaksimalkan harga saham adalah struktur yang dapat meminimalkan WACC. Nilai WACC akan diperhitungkan sebagai berikut :

WACC = Wd (Kd) (1-T) + Wc (Ks)
= (D/A) (Kd) (1-T) + (E/A) (Ks)

Dalam perhitungan ini, D/A dan E/A adalah rasio utang dan ekuitas, dan jumlah keduanya adalah 1,0.

Teori Pertukaran
Eori pertukaran leverage dimana perusahaan menukarkan keuntungan-keuntungan pendanaan mellui utang (perlakuan pajak perusahaan yang menguntungkan)

Teori Persinyalan
Sinyal adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajeen perusahaan yang memberikan petunjuk kepada para investor mengenai bagaimana cara pandang manajemen terhadap prospek perusahaan.

Investor memiliki informasi yang sama tentang prospek sebuah perusahaan seperti para manajernya hal ini disebut informasi simetris Namun kenyataannya, para manajer sering kali memiliki informasi yang lebih baik daripada investor pihak luar. Hal ini disebut informasi asimetris, namun memiliki pengaruh yang penting terhadap struktur modal yang optimal.

Menggunakan Pendanaan Utang Untuk Membatasi Manajer
Telah dinyatakan bahwa masalah keageman apat terjadi jika manajer dan pemegang saham memiliki tujuan yang berbeda. Konflik seperti ini khususnya memungkunkan besar terjadi ketika para manajer sebuah perusahaan memiliki terlalu banyak uang yang dapat mereka gunakan.


Daftar Periksa Untuk Keputusan Struktur Modal
Perusahaan umumnya memperhitungkan factor-faktor berikut ketika membuat keputusan pasar modal :
  1. Stabilitas Penjualan. Sebuah perusahaan yang penjualannya relative stabil dapat dengan aman mengambil lebih banyak utang dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dari pada perusahaan dengan penjuala yang tidak stabil.
  2. Struktur Aktiva. Perusahaan cocok sebagai jaminan atas pinjaman cenderung lebih banyak menggunakan utang.
  3. Leverage Operasi. Perusahaan dengan leverage operasi lebih sedikit memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menerapkan leverage keuangan kerena tersebut akan memiliki resiko bisnis yang lebih kecil
  4. Tingkat Pertumbuhan. Perusahaan yang tumbuh dengan cepat harus lebih banyak mengandalkan diri pada modal eksternal.
  5. Profitabilitas. Perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian atas investasi yang sangat tinggi menggunakan utang yang relative sedikit.
  6. Pajak. Bunga adalah beban yang dapat menjadi pengurang pajak, dan pengurang pajak adalah hal yang sangat berharga bagi perusahaan dengan tarif pajak yang tinggi.
  7. Pengendalian. Dampak utang versus saham pada posisi pengendalian manajemen dapat mempengaruhi struktur modal .
  8. Sikap manajemen. Karena tidak ada yang dapat membuktikan bahwa satu struktur modal akan mengarah pada harga saham yang lebih tinggi dari pada struktur modal yang lainnya, manajemen dapt menerapkan pertimbangan mereka sendiri atas struktur modal yang tepat.
  9. Sikap Pemberi pinjaman dan agen pemberi pengikat. Tanpa melihat analisis para manajer atas factor-faktor leverage yang tepat bagi perusahaan mereka sendiri perilaku pemberi pinjaman dan agen pemberi pengikat sering kali mempengaruhi keputusan struktur keuangan.
  10. Kondisi pasar. Kondisi pasar dan obligasi yang mengalami perubahan dlam baik jangka panjang maupun jangka pendek dapat memberikan arti yang penting pada truktur modal sebuh perusahaan yang optimal
  11. Kondisi internal perusahaan. Kondisi internal perusahaan sangat berpengaruh ada struktur modalnya sebagai contoh misalkan sebuah perusahaan baru saja melakukan sebuah penelitian dan pengembangan dengan sukse dan perusahaan tersebut meramalkan keuntungan yang tinggi dalam waktu yang tidak lama lagi
Melihat semua pemikiran diatas memberikan arti penting pada tujuan manjaga fleksibilitas keuangan, yang dilihat dari sudut panjang operasional, artinya menjaga kapasitas pinjaman cadangan yang memadai.
READ MORE - STRUKTUR MODAL dan LEVERAGE >

MAINTENANCE (PEMELIHARAAN) dan RELIABILITY (KEANDALAN)

Maintenance (pemeliharaan) adalah semua aktivitas yang berkaitan untuk mempertahankan peralatan system dalam kondisi layak bekerja. Sebuah system pemeliharaan yang baik akan menghilangkan variabilitas system. Taktik pemeliharaan adalah :
  1. Menerapkan dan meningkatkan pemeliharaan pencegahan
  2. Meningkatkan kemampuan atau kecepatan perbaikan

Reliability (keandalan) adalah peluang sebuah komponen mesin atau produk akan bekerja secara baik untuk waktu tertentu di baawah kondisi tertentu. Taktik keandalan adalah :
  1. Meningkatkan komponen individual
  2. Memberikan redundancy
Tujuan pemeliharaan dan keandalan adalah untuk mempertahankan kemampuan system, selagi mengendalikan biaya.

Strategi Pemeliharaan dan Keandalan yang baik membutuhkan keterlibatan karyawan dan prosedur yang baik.

A. MAINTENANCE (PEMELIHARAAN)

Untuk mengukur kesuksesan manajemen pemeliharaan, maka ada dua unsur yang harus ditentukan terlebih dahulu, yaitu keterlibatan karyawan dan prosedur pemeliharaan.

Factor karyawan dalam hal pemeliharaan dapat dilihat dari informasi yang dimiliki karyawan, keahlian yang dimilikinya, kompensasi yang diterima sebagai factor penguat motivasi dan kekuatan sinergi yang perlu dilakukan. Sebagai upaya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan keahlian dalam kaitannya dengan kegiatan pemeliharaan, maka pihak manajemen dapat menempuh beberapa hal yaitu :
  • Pertukaran informasi. Melalui penciptaan iklim yang kondusif, misalnya adanya bank data ( bank prosedur) yang berisikan data serta prosedur tentang pemeliharaan segala jenis mesin dalam system manufaktur.
  • Pelatihan keahlian. Bagi karyawan yang belum memiliki keahlian yang diharapkan, perusahaan dapat memilih untuk mengirimkan ke training center yang menawarkan pelatihan-pelatihan atau langsung dilatih di perusahaan melalui on the job training.
Adapun tentang prosedur pemeliharaan mesin-mesin, factor yang perlu diperhatikan adalah prosedur pembersihan dan pelumasan. Pembersihan ini ditujukan untuk menghindari korosi, kemacetan akibat adanya kotoran dan kegiatan ini dilakukan secara rutin. Sedangkan pelumasan bertujuan agar tidak terjadi gesekan material mesin secara langsung, mendinginkan panas mesin pada kondisi tertentu, dan memperpanjang umur mesin.

Prosedur berikutnya adalah monitor dan penyesuaian. Monitor harus dilakukan secara kontinu dengan jadwal yang sudah ditentukan. System monitor yang baik akan mampu melakukan penyesuaian yang diperlukan.

Manfaat dari adanya kegiatan pemeliharaan ( maintenance) antara lain :
  1. Perbaikan terus-menerus. Kegiatan ini menjadi kajian yang penting dalam manajemen operasi, baik manufaktur maupun jasa, terutama pabrik-pabrik yang menggunakan mesin yang berputar dan beroperasi setiap saat.
  2. Meningkatkan kapasitas. Dengan adanya perbaikan yang terus-menerus, maka tidak aka nada pengerjaan ulang / proses ulang, sehingga kapasitas akan meningkat.
  3. Mengurangi persediaan. Karena tidak perlu ada tumpukan bahan baku yang harus disiapkan untuk melakukan produksi ulang.
  4. Biaya operasi lebih rendah. Akibat kapasitas yang meningkat disertai dengan persediaan yang rendah, maka secara otomatis akan mengakibatkan biaya operasi lebih rendah. Tidak perlu penyimpanan bahan baku dan tidak perlu adanya biaya tambahan karena proses pengerjaan ulang.
  5. Produktivitas lebih tinggi. Jika biaya operasi lebih rendah, maka dari rumus produktivitas adalah output/input akan diperoleh bahwa produktivitas akan lebih besar (dengan catatan output konstan). Tentunya produktivitas akan lebih besar lagi jika output semakin besar.
  6. Meningkatkan kualitas. Akan tercipta cost advantage, artinya dengan kualitas yang sama baik, harga dapat ditetapkan menjadi lebih murah.
Terdapat dua jenis taktik pemeliharaan : pemeliharaan pencegahan dan pemeliharaan kerusakan.

(I) Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenance)


Pemeliharaan pencegahan sebuah rencana yang meliputi pemeriksaan rutin, pemeliharaan, dan menjaga fasilitas tetap dalam kondisi baik utuk mencegah kegagalan.
Sebuah tingkat kegagalan awal yang tinggi, dikenal sebagai tingkat kematian dini (infant mortality), yang mungkin terjadi pada banyak produk. Yang dimaksud tingkat kematian dini sendiri yaitu tingkat kegagalan di awal kehidupan sebuah produk atau proses.

Hasil yang cacat / gagal akan menyebabkan tambahan biaya karena harus diproses kembali dan yang lebih besar resikonya adalah kurangnya kepercayaan konsumen kepada perusahaan akibat produk gagal. Tambahan yang timbul menyebabkan biaya produksi membengkak ( tidak minimal). Jika biaya produksi membengkak, maka harga barang menjadi tinggi.

Pemeliharaan yang periodic dan terencana sangat diperlukan pada fasilitas-fasilitas produksi, jika tidak akan mengakibatkan kerusakan “ Unit Kritis” dikarenakan :
  • Kerusakan fasilitas tersebut akan menyebabkan terhentinya seluruh aktivitas proses produksi.
  • Kerusakan fasilitas tersebut akan mempengaruhi kualitas produk.
  • Investasi yang ditanamkan dalam fasilitas tersebut cukup besar.
  • Kerusakan fasilitas tersebut akan membahayakan pekerja, baik kesehatan maupun keselamatannya.
Preventive maintenance ini dapat mengatasi kerusakan yang tiba-tiba terjadi. Hal ini dikarenakan preventive maintenance ini dapat mendeteksi dan menangkap sinyal kapan suatu system akan mengalami kerusakan serta menentukan kapan suatu system memerlukan service ( perbaikan).

Dengan teknik pelaporan yang baik, perusahaan dapat menjaga arsip proses, mesin, atau peralatan individu. Arsip seperti itu dapat menyediakan profil yang berisi baik jenis pemeliharaan yang diperlukan maupun waktu pemeliharaan yang dibutuhkan. Sejarah pemeliharaan peralatan merupakan bagian yang sangat penting bagi sebuah system pemeliharaan pencegahan, seperti halnya catatan mengenai waktu dan biaya perbaikan. Arsip seperti ini juga memberikan informasi serupa tentang keluarga peralatan begitu juga pemasok.

(II) Pemeliharaan Kerusakan / Perbaikan

Pemeliharaan kerusakan adalah pemeliharaan secara langsung yang terjadi ketika peralatan gagal dan harus diperbaiki dalam kondisi darurat atau dengan dasar prioritas.

Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan mesin produksi, yaitu :
  • Pemilihan rancang bangun yang tidak sesuai
  • Keterampilan operator dan petugas pemeliharaan yang tidak mendukung dalam pegoperasian mesin produksi
  • Kelalaian dalam pemeliharaan dasar, seperti kebersihan dan pelumasan
  • Kondisi mesin atau peralatan yang sudah aus akibat gesekan, dan
  • Kesalahan menjaga kondisi operasi mesin pada saat beroperasi
Kerusakan yang disebabkan beberapa hal di atas, akan mengakibatkan :
  1. Inefisiensi operasi, karena harus melakukan pemrosesan ulang.
  2. Reputasi yang buruk, karena berubahnya cara pandang konsumen terhadap produk.
  3. Rendahnya profitability, karena berkurangnya permintaan konsumen dalam jangka panjang.
  4. Kehilangan pelanggan yang beralih ke produk lain, karena produk yang gagal.
  5. Menurunnya kualitas produk, karena produk yang gagal.
  6. Karyawan menjadi tidak puas, karena menghasilkan produk yang gagal.
  7. Keuntungan menjadi semakin rendah akibat menurunnya permintaan.
Karena itu perlu untuk meningkatkan kemampuan memperbaiki. Memperbesar atau meningkatkan fasilitas pemeliharaan dapat menjadikan system bekerja secara lebih cepat. Sebuah fasilitas pemeliharaan yang baik memerlukan enam fitur berikut :
  1. Personel yang terlatih dengan baik
  2. Sumber daya yang cukup
  3. Kemampuan untuk menetapkan sebuah rencana perbaikan dan prioritas
  4. Kemampuan dan otoritas untuk melakukan perencanaan material
  5. Kemampuan untuk mengidentifikasi penyebab kerusakan
  6. Kemampuan untuk mendesain cara untuk memperluas mean time between failures (waktu rata-rata kegagalan).
Pemeliharaan Produksi Total
Dengan memadukan manajemen kualitas total dengan pandangan strategis pemeliharaan dari sisi perancangan proses dan peralatan untuk pemeliharaan pencegahan.

Sebagai tambahan, pemeliharaan produktif total mencakup:
  • Perancangan mesin yang andal, mudah dioperasikan, dan mudah dalam pemeliharaan
  • Menekankan biaya kepemilikan total di saat membeli mesin, sedemikian rupa sehingga biaya pelayanan dan pemeliharaan sudah termasuk dalam biaya pembelian tersebut
  • Membuat rencana pemeliharaan pencegahan yang memanfaatkan praktek operator yang terbaik, departemen pemeliharaan, dan depot pelayanan.
  • Melatih pekerja untuk mengoperasikan dan memelihara mesin mereka sendiri.

Teknik Lain untuk Menetapkan Kebijakan Pemeliharaan :

SIMULASI

Simulasi merupakan usaha untuk meniru ciri, penampilan, dan karakteristik dari system nyata. Karena kompleksitas dari beberapa keputusan pemeliharaan, simulasi komputer merupakan alat yang baik untuk mengevaluasi dampak berbagai kebijakan. Simulasi yang dilakukan melalui model fisik juga bermanfaat dengan cara menirukan bagian dari system manajemen operasional melalui pembuatan model matematik yang diusahakan untuk sedekat mungkin dengan realita dan model tersebut, kemudian digunakan untuk memperkirakan efek-efek berbagai tindakan.

Bagi seorang manajer, dalam menggunakan model simulasi dibuat langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Menentukan masalah
  2. Memperkenalkan variable penting yang disertai dengan masalah yang dihadapi
  3. Membuat model angka / matematiknya
  4. Menyusun arah tindakan yang mungkin untuk pengujian
  5. Melakukan percobaan
  6. Mempertimbangkan hasil ( memodifikasi model atau mengubah input data)
  7. Memutuskan arah tindakan yang akan diambil.
Manfaat dari model simulasi antara lain :
  • Simulasi relative berterus terang dan fleksibel.
  • Simulasi dapat digunakan untuk menganalisa situasi dunia nyata yang luas dan kompleks.
  • Komplikasi dunia nyata dapat diikuti ( ditiru), yang biasanya tidak dapat ditiru dalam kebanyakan model perencanaan atau manajemen operasional.
  • Pemanfaatan waktu dimungkinkan dalam simulasi melalui penggunaan simulasi komputer.
  • Simulasi memungkinkan para manajer mengetahui sebelumnya pilihan apa saja yang paling menarik.
  • Simulasi tidak mempengaruhi system dunia nyata.Dengan adanya simulasi, dapat dipelajari efek interaktif dari komponen atau variable individual untuk menentukan mana yang lebih penting.
Simulasi sering merupakan sebuah teknik yang sesuai untuk permasalahan pemeliharaan, karena kompleksitas dari beberapa keputusan pemeliharaan, simulasi merupakan alat yang baik untuk mengevaluasi dampak berbagai kebijakan ( baik melalui simulasi komputer ataupun simulasi fisik).

Apabila dalam suatu system mengandung elemen yang menunjukkan adanya peluang, maka metode simulasi Monte Carlo dapat digunakan sebagai eksperimen terhadap elemen peluang melalui sampling acak.

SISTEM PAKAR

Sistem pakar adalah perangkat lunak komputer yang menggunakan pengetahuan (aturan-aturan tentang sifat dari unsur suatu masalah), fakta dan teknik inferensi untuk masalah yang biasanya membutuhkan kemampuan seorang ahli. Dapat digunakan untuk membantu karyawan mengisolasi dan memperbaiki berbagai kesalahan pada peralatan dan permesinan.

Pengetahuan yang digunakan dalam system pakar terdiri dari kaidah-kaidah (rules) atau informasi dari pengalaman tentang tingkah laku suatu unsur persoalan. Kaidah-kaidah biasanya memberikan deskripsi kondisi yang diikuti oleh akibat dari prasyarat tersebut.

Tujuan perancangan system pakar adalah untuk mempermudah kerja, atau bahkan mengganti tenaga ahli, penggabungan ilmu dan pengalaman dari tenaga ahli, training tenaga ahli baru, penyediaan keahlian yang diperlukan oleh suatu proyek yang tidak memiliki atau tidak mampu membayar tenaga ahli.

Penggabungan ilmu dan pengalaman para tenaga ahli bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah, apalagi untuk mereka yang mempunyai keahlian yang berbeda. Untuk itulah system pakar dirancang dengan fungsi menyimpan dan menggunakan ilmu serta pengalaman dari satu atau beberapa tenaga ahli.

B. RELIABILITY (KEANDALAN)
Pemeliharaan akan menyebabkan keterandalan, keterandalan akan menyebabkan efisiensi dan meningkatkan produktivitas. Untuk mengelola masing-masing komponen, maka teknik yang digunakan adalah :

Meningkatkan komponen individual

Untuk mengukur keandalan di sebuah sistem di mana setiap komponen atau individu mungkin hanya memiliki tingkat keandalan tersendiri, digunakan metode perhitungan keandalan sistem (Rs) sangat sederhana. Perhitungan ini mencoba menemukan hasil kali dari keandalan individu sebagai berikut:

Rs = R1 x R2 x R3 x … x Rn ..…(1)

Dengan asumsi bahwa keandalan sebuah komponen individu tidak bergantung pada keandalan komponen yang lain (setiap komponen berdiri sendiri).

Keterandalan juga dapat diartikan sebagai peluang yang berfungsi dalam waktu yang telah ditentukan. Ukuran keterandalan yang paling sering dilakukan adalah tingkat kegagalan produk ( product failure rate / FR). Perusahaan yang memproduksi peralatan berteknologi tinggi sering menyediakan data tingkat kegagalan produk mereka.

FR (%) = (Jumlah unit yang rusak/Jumlah unit yang diuji) x 100% ..…(2)

atau

FR (N) = Jumlah unit yang rusak/Jumlah unit-jam waktu operasi …..(3)


Juga menggunakan waktu rata-rata antara kegagalan ( mean time between failures / MTBF), yaitu waktu yang diharapkan di antara perbaikan dan kegagalan komponen, mesin, proses, atau produk yang berikutnya.

MTBF = 1 / FR (N) …..(4)

Menetapkan Redundancy

Untuk meningkatkan keandalan system, maka ditambahkan redundancy. Teknik ini digunakan untuk “menyokong” komponen dengan komponen tambahan ( cadangan). Hal ini dilakukan dengan menempatkan unit secara paralel dan merupakan taktik manajemen operasi standar.

Redundancy diberikan untuk memastikan bahwa jika sebuah komponen gagal, maka system memiliki sumber daya yang lain. Keandalan yang dihasilkan adalah kemungkinan komponen pertama bekerja ditambah dengan kemungkinan dari komponen cadangan ( komponen paralelnya) yang bekerja dikalikan dengan kemungkinan perlunya komponen cadangan.

Tujuan pemeliharaan dan keandalan adalah untuk mempertahankan kemampuan system, selagi mengendalikan biaya. Sebuah system pemeliharaan yang baik akan menghilangkan variabilitas system.

Trade-off antara pemeliharaan yang dilakukan oleh karyawan dengan pemeliharaan yang dilakukan oleh pemasok adalah dengan teknik pelaporan yang baik, perusahaan dapat menjaga arsip proses, mesin, atau peralatan individu. Arsip seperti itu dapat menyediakan profil yang berisi baik jenis pemeliharaan yang diperlukan maupun waktu pemeliharaan yang dibutuhkan. Sejarah pemeliharaan peralatan merupakan bagian yang sangat penting bagi sebuah system pemeliharaan pencegahan, seperti halnya catatan mengenai waktu dan biaya perbaikan. Arsip seperti ini juga memberikan informasi serupa tentang keluarga peralatan begitu juga pemasok.

Seorang manajer dapat mengevaluasi efektivitas fungsi pemeliharaan.
Untuk mengukur kesuksesan manajemen pemeliharaan, maka ada dua unsur yang harus ditentukan terlebih dahulu, yaitu keterlibatan karyawan dan prosedur pemeliharaan.
Factor karyawan dalam hal pemeliharaan dapat dilihat dari informasi yang dimiliki karyawan, keahlian yang dimilikinya, kompensasi yang diterima sebagai factor penguat motivasi dan kekuatan sinergi yang perlu dilakukan.
Adapun tentang prosedur pemeliharaan mesin-mesin, factor yang perlu diperhatikan adalah prosedur pembersihan dan pelumasan, juga monitor dan penyesuaian.

Pada sebuah adu pendapat mengenai pemeliharaan pencegahan di Windsor Printers, pemilik perusahaan bertanya, “Mengapa harus diperbaiki sebelum alat tersebut rusak?”, "Bagaimana jika Anda sebagai direktur pemeliharaan menjawab pertanyaan tersebut?"

Seperti yang dijelaskan di atas, pemeliharaan pencegahan yang periodic dan terencana sangat diperlukan pada fasilitas-fasilitas produksi, jika tidak akan mengakibatkan kerusakan “ Unit Kritis” dikarenakan :
  • Kerusakan fasilitas tersebut akan menyebabkan terhentinya seluruh aktivitas proses produksi.
  • Kerusakan fasilitas tersebut akan mempengaruhi kualitas produk.
  • Investasi yang ditanamkan dalam fasilitas tersebut cukup besar.
  • Kerusakan fasilitas tersebut akan membahayakan pekerja, baik kesehatan maupun keselamatannya.
Oleh karena itu pemeliharaan sebelum mesin mengalami kerusakan sangat penting dilakukan. Bagaimana pun, konsekuensi kerusakan harus benar-benar dipertimbangkan. Bahkan beberapa kerusakan kecil dapat mengakibatkan malapetaka untuk produktivitas ke depannya.
READ MORE - MANAJEMEN OPERASI : MAINTENANCE (PEMELIHARAAN) dan RELIABILITY (KEANDALAN) >

DIVIDEN

Posted by Artikel Menarik | 8:35 AM | | 0 comments »

Rasio Pembayaran Sasaran (Target Payout Ratio)
Yang dinyatakan sebagai persentase dari laba bersih yang akan dibayarkan sebagai dividen tunai. Hal ini didasarkan pada preferensi Investor untuk memilih antara dividen atau keuntungan modal, apakah investor lebih menyukai :
  1. Laba dibagikan sebagai dividen tunai atau,
  2. Membiarkan perusahaan melakukan pembelian kembali atau menanamkan kembali dalam bisnis dengan harapan mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang.
Hal ini diperhitungkan :

Po = D1/Ks-g


Kebijakan Dividen Optimal
adalah kebijakan dividen yang mencapai suatu keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa yang akan datang and memaksimalkan harga saham perusahaan.
Dalam bagian ini kita lihat 3 teori tentang preferensi investor :
  1. Teori Irelevansi dividen, Merton M dan Franco Modiglian berpendapat bahwa nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan dasar untuk menghasilkan laba dan resiko bisnisnya. Dengan kata lain bahwa nilai dari sebuah perusahaan akan tergantung hanya pada laba yang diproduksi oleh aktiva-aktivanya, bukan pada bagian laba tersebut akan dibagi menjadi dividend an saldo laba ditahan.
  2. Teori “burung di tangan” (birt in the hand theory), merupakan teori yang menyatakan bahwa nilai sebuah perusahaan akan dapat dimaksimalkan dengan menetapkan rasio pembayaran dividen yang tinggi.
  3. Teori preferensi pajak, apabila dipandang dari sudut pandang pajak, para investor umumnya akan menyukai pembayaran dividen yang rendah ketimbang menerima pembayaran yang tinggi, hal ini dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu :
  • Keuntungan modal jangka panjang dikenakan tarif pajak 20 %, sedangkan laba dividen dikenakan tarif efektif yang dapat mencapai angka maksimal 38,6%. Para investor yang menerima sebagian besar dividen memilih menahan atau menanamkan kembali labanya dalam bisnis, sehingga pertumbuhan laba mungkin akan mengarah pada kenaikan harga saham, dan akibatnya keuntungan modal dengan pajak rendah akan menggantikan dividen yang pajaknya tinggi.
  • Pajak atas keuntungan tidak akan dibayarkan sampai saham tersebut dijual. Seorang ahli waris tidak dikenakan pajak atas keuntungan modal
Karena keunggulan tersebut para investor umumnya menyukai perusahaan menahan sebagian besar laba mereka.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
  1. Posisi Likuiditas Perusahaan, karena dividen merupakan “cash outflow” maka makin kuatnya posisi likuiditas perusahaan, berarti makin besar kemampuan untuk membayar dividen.Dengan sendirinya likuiditas perusahaan ditentukan oleh keputusan-keputusan dibidang investasi dan cara pemenuhan kebutuhan dananya. Maka dapat dikatakan bahwa makin kuat posisi likuiditas perusahaan terhadap prospek kebutuhan dana di masa depan, makin tinggi “dividen payout ratio”nya.
  2. Kebutuhan Dana Untuk Membayar Utang, apabila perusahaan menetapkan bahwa pelunasan utangnya akan diambil dari laba ditahan. Berarti perusahaan memperkecil pembayaran dividen.dengan kata lain perusahaan menetapkan dividen payout ratio yang rendah.
  3. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan, makin cepat pertumbuhan perusahaan berarti makin tinggi pula dana untuk membiayai pertumbuhan perusahaan tersebut. Pada situasi ini biasanya perusahaan lebih suka menahan earning’nya daripada dibayarkan sebagai dividen, hal ini berarti makin rendah “dividen payout ratio” nya. Apabila perusahaan telah dapat memenuhi kebutuhannya dari sumber dana pasar modal atau yang lainnya maka perusahaan dapat menetapkan “dividend payout ratio yang tinggi”.
  4. Pengawasan Terhadap Perusahaan, mempercayakan pada pembelanjaan intern dalam rangka usaha mempertahankan kontrol terhadap perusahaan, hal ini berarti mengurangi “dividend payout ratio” nya.

Macam-macam Kebijakan Dividen
  1. Kebijakan dividen Stabil
  2. Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah ekstra tertentu
  3. Kebijakan dividen dengan penetapan dividen payout ratio yang konstan
  4. Kebijakan dividen fleksibel

Model Dividen Residu
Model dimana dividen yang dibayarkan akan ditentukan sama dengan laba bersih dikurangi jumlah saldo aba ditahan yang dibutuhkan untuk mendanai anggaran modal perusahaan yang optimal.
Menurut model ini perusahaan akan mengikuti 4 langkah dalam menentukan sasaran rasio pembayarannya yaitu:
  1. Menentukan anggaran modal yang optimal
  2. Menentukan jumlah ekuitas yang dibutuhkan untuk memenuhi anggaran tersebut
  3. Laba ditahan digunakan unyuk memenuhi kebutuhan ekuitas
  4. Dividen dibayarkan jika laba yang tersedia lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk mendukung anggaran modal yang optimal.
Jika perusahaan menikuti kebijakan dividen residu maka dinyatakan sbb :

Dividen = Laba bersih - saldo laba ditahan untuk mendanai investasi – investasi baru
= Laba bersih – [(Rasio ekuitas sasaran) (total anggaran modal)]

Jika perusahaan mengikuti model residu maka hendaknya :
  1. Mengestimasikan laba dan peluang investasi perusahaan, secara rata-rata, untuk periode sekitar lima tahun ke depan
  2. Menggunakan ramalan informasi untuk menghitung rasio pembayaran model residu dan jumlah dolar dividen selama periode perencanaan
  3. Menentukan suatu rasio pembayaran sasaran berdasarkan data yang telah diproyeksikan

Prosedur pembayaran
  1. Tanggal Deklarasi, tanggal dimana para direksi perusahaan mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengumumkan pembayaran dividen.
  2. Tanggal Pemegang Saham Tercatat, jika daftar yang dimiliki perusahaan menyatakan pemegang saham sebagai seorang pemilik pada tanggal hari ini. Maka pemegang saham tersebut akan menerima dividen.
  3. Tanggal Eks Dividen, tanggal dimana hak atas dividen saat ini tidak lagi menyertai sebuah saham, biasanya 2 hari kerja sebelum tanggal pemegang saham tercatat.
  4. Tanggal Pembayaran, tanggal dimana sebuah perusahaan benar-benar mengirimkan cek pembayaran dividennya.

Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
a. Batasan
  • Pembatasan saham preferen
  • Aturan penurunan nilai modal
  • Ketersediaan kas
  • Sanksi pajak atas akumulasi laba secara tidak benar
b. Peluang Investasi
  • Jumlah peluang investasi yang menguntungkan
  • Kemungkinan untuk mempercepat atau menunda proyek
c. Sumber Modal Alternatif
  • Biaya penjualan saham baru
  • Kemampuan untuk menggantikan utang dengan ekuitas
  • Pengendalian
d. Pengaruh Kebijakan Dividen pada Ks
  • Keinginan Para Pemegang saham akan laba saat ini vs laba masa depan
  • Penerimaan setiap resiko dividen vs keuntungan modal
  • Keunggulan pajak dari keuntungan modal atas dividen
  • Kandungan informasi dari dividen (pensinyalan)

Dividen dan Pemecahan Saham
Pemecahan saham
Tindakan yang diambil oleh sebuah perusahaan untuk meningkatkan jumlah lembar saham beredar.
Deviden Saham
Deviden yang dibayarkan dalam bentuk penambahan saham dan bukan uang tunai

Pengaruh Pada harga Saham
  • Harga saham akan naik
  • Kenaikan harga saham perusahaan akibat sinyal-sinyal prospek laba dan dividen
  • Harga saham akan jatuh jika tidak diumumkan adanya kenaikan laba dan dividen

Pembelian SahamKembali (Stock Repurchases)
Alternatif dari pembayaran dividen kas, perusahaan dapat melakukan pembelian saham kembali. Pembelian saham perusahaan yang beredar tersebut bisa dilakukan melalui pasar sekunder Bursa Efek. Saham yang dibeli tersebut masuk dalam rekening treasury stock. Secara teoritis, nilai perusahaan sebelum dan sesudah pembelian saham kembali akan sama.

Keuntungan Pembelian Saham Kembali
  1. Pembelian saham kembali bisa menghemat pajak.
  2. Pengumuman pembelian kembali bisa dianggap sebagai signal positif oleh investor, kerana pembelian saham kembali seringkali didorong oleh motivasi manajer yang mengganggap bahwa harga saham undervalued (lebih rendah dari yang seharusnya).
  3. Pembayaran dividen biasanya dilakukan dengan pola stabil.
  4. Pemegang saham mempunyai pilihan dengan pembelian saham kembali. Apabila membutuhkan kas, mereka bisa menjual saham yang mereka peroleh. Sebaliknya, jika tidak membutuhkan kas, atau menghindari pajak, mereka bisa menginvestasikan kembali kedalam saham perusahaan.
  5. Dalam beberapa situasi tertentu, pembelian saham kembali dilakukan secara selektif

Kerugian Pembelian Saham Kembali
  1. Pemegang saham bisa mempunyai preferensi yang berbeda antara dividen kas dan pembelian saham kembali (keuntungan diperoleh dari capital gain). Dividen kas cenderung lebih bisa ‘diandalkan’ karena memberi pendapatan yang jelas (kas yang diterima), dan relatif stabil.
  2. Perusahaan barangkali membayar harga pembelian kembali terlalu tinggi, sehingga merugikan pemegang saham saat ini (yang tetap memegang saham).
  3. Pemegang saham yang menjual sahamnya barangkali tidak mengetahui persis implikasi dan efek dari program pembelian saham kembali. Apabila ternyata merasa dirugikan, mereka dapat menuntut perusahaan.
Dividen Saham dan Stock Split
Penyesuaian Akuntansi Dividen Saham dan Stock Split (Pemecahan Saham)
Konsekuensi dari dividen saham dan stock split adalah bertambahnya jumlah saham yang beredar. Tetapi, karena tidak ada nilai tambah (secara ekonomis), maka harga saham per-lembar menjadi lebih kecil. Total efek dari dividen saham dan stock split tidak ada, dengan kata lain, nilai total perusahaan (saham) akan sama.

Alasan Dilakukannya Dividen Saham dan Stock
  1. Perusahaan ingin menahan kas, tetapi juga ingin membayar dividen. Resolusinya adalah dengan membayar stock dividen atau stock splits.
  2. Perusahaan ingin memperoleh trading range yang dianggap ideal.
  3. Perusahaan ingin memberi signal ke pasar. Penemuan empiris menunjukkan bahwa harga akan bereaksi positif pada saat stock split diumumkan.

Reverse Split
Reverse split merupakan kebalikan dari stock spit (pemecahan saham). Dalam reverse split, beberapa lembar saham disatukan menjadi satu saham.

Dalam dunia nyata, reverse split dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, saham yang nilainya terlalu kecil sering dianggap sebagai saham yang tidak baik atau tidak ‘terhormat’. Investor menganggap perusahaan tersebut mempunyai prospek yang kurang baik, dan cenderung menilai rendah (underestimate). Untuk itu harga sahamdinaikkan agar mendekati range yang ideal. Kedua, jika harga saham meningkat, biaya transaksi diharapkan menjadi semakin kecil (kebalikan dari penemuan empiris efek stock split). Biaya transaksi yang lebih kecil diharapkan mendorong likuiditas saham.
READ MORE - DIVIDEN >

LAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

Posted by Artikel Menarik | 8:34 AM | | 0 comments »

Laporan keuangan sector public merupakan representasi posisi keuangan dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas sector public. Tujuan umum pelaporan keuangan adalah untk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan arus kas dari suatu entitas yang berguna bagi sejmlah besar pemakai (wide range users) dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu entitas dalam aktivitasnya untuk mencapai tujuan.

Secara spesifik, tjuan khusus pelaporan keuangan sector public adalah menyediakan informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan, dan menunjukkan akuntabilitas entitas atas sumber daya yang dipercayakan, dengan cara :
  1. Menyediakan informasi mengenai sumber-sumber alokasi, dan penggunaan sumber daya keuangan atau financial.
  2. Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas mandanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya
  3. Menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas dalam pendanaan aktivitasnya dan memenuhi kewajiban serta komitmennya
  4. Menyediakan informasi mengenai kondisi financial suatu entitas dan perubahan didalamnya
  5. Menyediakan informasi agregat yang berguna untuk mengevaluasi kinerja entitas dalam hal bidang jasa, efisiensi, dan pencapaian tujuan.

KOMPONEN KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK
Komponen laporan keuangan sector public yang lengkap meliputi :
  1. Laporan posisi keuangan
  2. Laporan kinerja keuangan
  3. Laporan perubahan aktiva/ekuitas netto
  4. Laporan arus kas
  5. Kebijakan akuntansi dan catatan atas laporan keuangan
Komponen laporan keuangan diatas dijadikan sebagai pedoman dalam pembuatan laporan keuangan sector public

A. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Laporan posisi keuangan, atau disebut juga dengan neraca ataupun laporan aktiva dan kewajiban adalah laporan keuangan yang menyajikan posisi aktiva, hutang dan modal pemilik pada satu saat tertentu. Sevara minimum, laporan posisi keuangan harus memasukkan pos-pos yang menyajikan jumlah berikut :
  1. Properti, pabrik dan peralatan
  2. Aktiva-aktiva tak berwujud
  3. Aktiva-aktiva financial
  4. Investasi yang diperlukan dengan metode ekuitas
  5. Persediaan
  6. Pemulihan transaksi non pertukaran, termasuk pajak dan transfer
  7. Piutang dari transaksi pertukaran
  8. Kas dan setara kas
  9. Hutrang pajak dan transfer
  10. Hutang karana transaksi pertukaran
  11. Cadangan (provision)
  12. Kewajiban tidak lancer
  13. Pertisipasi minoritas, dan
  14. Aktiva/ekuitas neto

B. Laporan Kinerja Keuangan (Laporan Surplus/Devisit)
Laporan kinerja keuangan atau disebut dengan laporan pendapatan dan biaya, laporan rugi laba, laporan operasi, adalah laporan keuangan yang menyajikan pendapatan dan biaya selama satu periode tertentu.
Laporan kinerja keuangan minimal harus mencakup pos-pos lini berikut :
  1. Pendapatan dari aktivitas operasi
  2. Surplus atau devisit dari aktivitas operasi
  3. Biaya keuangan (biaya pinjaman)
  4. Surplus atau devisit neto saham asosiasi dan joint venture yang menggunakan metode ekuitas
  5. Surplus atau devisit dari aktivitas biasa
  6. Pos-pos luar biasa
  7. Saham partisipasi minoritas dari surplus atau devisit neto, dan
  8. Surplus atau devisit neto untuk suatu periode.

C. Laporan Perubahan Dalam Aktiva/Ekuitas Neto
Laporan perubahan aktiva/ekuitas neto dari suatu entitas daiantara dua tanggal pelaporan menggambarakan peningkatan atau penurunan kekayaan, bedasarkan prinsip pengukuran tertentu yang diadopsi dan harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Perubahan keseluruhan dalam aktiva atau ekuitas neto menyajikan total surplus/devisit neto untuk suatu periode, pendapatan dan biaya lainnya yang diakui secara langsung sebagai perubahan dalam aktiva/ekuitas neto dan setiap kontribusi oleh, dan kontribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik.
Laporan perubahan dalam aktiva/ekuitas neto ini paling tidak meliputi :
  1. Kontribusi oleh pemilik dan distribusi kepada pemili dalam kapasitanya sebagai pemilik
  2. Saldo untuk surplus dan devisit akumulasian pada awal periode dan pada tanggal pelaporan dan pergerakan selama periode
  3. Pengungkapan komponen aktiva/ekuitas neto secara terpisah, dan rekonsiliasi antara nilai tercatat dari setiap komponen aktova atau ekuitas neto pada awal dan akhir periode yang mengungkapkan setiap perubahan.
D. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menyajikan informasi tentang penerimaan dan pengeluaran dari kas selama satu periode tertentu. Penerimaan dan pengeluaran kas diklasifikasikan menurut kegiatan operasi, kegiatan pendanaan, dan kegiatan investasi. Informasi arus kas bermanfaat bagi pemakai laporan keuangan karena menyediakan dasar taksiran kemampuan entitas untuk menghasilkan kas dan setara kas, dan kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut.

E. Kebijakan Akuntansi dan Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan laporan keuangan dari entitas harus:
  1. Menyediakan informasi mengenai dasar penyusunan laporan keuangan, dan kebijakan akuntansi spesifik yang dipilih serta menetapkan terhadap transaksi-transaksi dan peristiwa-peristiwa penting lainnya
  2. Mengungkapkan informasi yang diwajibkan oleh standar akuntansi keuangan sector public, yang tidak disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan kinerja keuangan, laporan arus kas, dan laporan perubahan aktiva/ekuitas neto, dan:
  3. Menyediakan informasi yang tidak disajikan pada laporan keuangan, namun persyaratan penyajian wajar tetap ditetapkan.

Kebiajakan akuntansi yang dapat dipertimbangkan oleh suatu entitas untuk disajikan meliputi, namun tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut:
  1. Pengakuan pendapatan
  2. Prinsip-prinsip konsolidasi, termasuk entitas pengendalian
  3. Investasi-investasi
  4. Pengakuan depresiasi/amortisasi aktiva berwujud dan tak berwujud
  5. Kapitalisasi biaya dan pengeluaran lain
  6. Persediaan yang dimiliki untuk dijual
  7. Aktiva bersyarat lain
  8. Kontrak-kontrak kontruksi
  9. Investasi property
  10. Instrument financial dan investasi
  11. Sewa guna usaha/lease
  12. Biaya penelitian dan pengembangan
  13. Persediaan untuk dikonsumsi
  14. Penyisihan
  15. Biaya manfaat pensun
  16. Penjabaran mata uang asing dan lindung nilai (hedging)
  17. Devinisi segmen-segmen dan dasar alokasi biaya antar segmen
  18. Akuntansi inflasi
  19. Hibah pemerintah.

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK
Analisis laporan keuangan dapat ditinjau dari ragam pelaporan yang ada, yaitu:
  • Laporan kinerja keuangan (Neraca)
  • Likuiditas pemerintah
  • Komposisi investasi
  • Kekayaan pemerintah
  • Komposisi kewajiban
  • Ravaluasi cadangan
  • Komposisi hutang pension
  • Laporan kinerja keuangan (surplus/devisit)
  • Efektifitas penarikan pajak
  • Tingkat pelanggaran peraturan keuangan
  • Komposisi pendapatan
  • Komposisi pengeluaran
  • Beban bunga pinjaman
  • Rugi surplus translasi keuangan
  • Laporan arus kas
  • Komposisi arus kas
  • Tingkat panarikan pajak baik indivisual, organisasi maupun produk
  • Komposisi pajak tidak langsung
  • Komposisi likuiditas pendapatan lain-lain
  • Komposisi pengeluaran kas
  • Komposisi pengeluaran investasi
  • Komposisi pencairan investasi
  • Komposisi likuiditas pertukaran mata uang

Selain menganalisis laporan keuangan, pengukuran kinerja perekonomian dapat dilakukan melalui beberapa indicator, yaitu:
I. Indikator pertumbuhan ekonomi
  1. Pendapatan nasional bruto per kapita
  2. Tingkat konsumsi per kapita
  3. Volume ekspor
  4. Harga-harga (tingkat inflasi
II. Indikator Structural
  1. Persentase tabungan domestic bruto terhadap pendapatan nasional bruto
  2. Persentase domestic bruto terhadap PNB
  3. Persentase barang-barang primer terhadap total ekspor
  4. Konsumsi energy per kapita
III. Indikator social
  1. Tingkat kematian
  2. Tingkat kematian bayi
  3. Konsumsi kalori per kapita
  4. Tingkat pendidikan dasar
  5. Tingkat pendidikan menengah
READ MORE - LAPORAN KEUANGAN SEKTOR PUBLIK >

CAPITAL BUDGETING

Posted by Artikel Menarik | 8:33 AM | | 0 comments »

Merupakan keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana dimana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi waktu satu tahun. Batas jangka waktu satu tahun tidak mutlak. Termasuk golongan pengeluaran dan ini adalah pengeluaran dana untuk pembelian aktiva tetap (plant investment), yaitu tanah, bangunan-banguna, mesin-mesin dan peralatan-peralatan lainnya. Demikian pula pengeluaran dana untuk proyek advertensi jangka panjang, penelitian dan pengembangan termasuk juga dalam golongan “capital budgeting expenditures”

Langkah-langkah Capital Budgeting
  1. Biaya proyek harus ditentukan
  2. Manajemen harus memperkirakan aliran kas yg diharapkan dari proyek, termasuk nilai akhir aktiva
  3. Risiko dari aliran kas proyek harus diestimasi. (memakai distribusi probabilitas aliran kas)
  4. Dengan mengetahui risiko dari proyek, manajemen harus menentukan biaya modal (cost of capital) yg tepat untuk mendiskon aliran kas proyek
  5. Dengan menggunakan nilai waktu uang, aliran kas masuk yang diharapkan digunakan untuk memperkirakan nilai aktiva.
  6. Terakhir, nilai sekarang dari aliran kas yg diharapkan dibandingkan dengan biayanya.

Perbedaan NPV dan IRR
Metode Net Present Value (NPV)
Adalah proceeds atau cash flows yang didiskontokan atas dasar biaya modal (cost of capital) atau rate of return. Yang diinginkan.Dalam metode ini pertama-tama dihitung adalah nilai sekarang (present value) Dari proceeds yang diharapkan atas dasar “discount rate” tertentu. Kemudian jumlah “present value” (PV) dari keseluruhan proceeds selama usianya dikurangi dengan PV dari jumlah investasinya (initial investment). Selisih antra PV dari pengeluaran modal (capital outlay atau initial investment) dinamakan nilai sekarang netto. (Net Present Value)

Metode Internal Rate of Return (Yield Method)
Adalah tingkat bunga yang kan menjadikan jumlah nilai sekarang dari proceeds yang diharapkan akan diterima (PV of future prodeeds) sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal (PV of capital outlays) Pada dasarnya “internal rate of return” harus dicari dengan cara “Trial and error” dengan serba coba-coba.

Pertama-tama menghitung PV dari proceeds dari suatu investasi dengan menggunakan tingkat bunga yang dipilih menurut sekehendak kita. Kemudian hasil perhitungan itu dibandingkan dengan PV dari outlaynya. Kalau PV dari proceeds lebih besar dari pada PV dari investasi atau outlaynya, kita harus menggunakan tingkat bunga yang lebih tinggi lagi.
Metode ini untuk membuat peringkat usulan investasi dengan menggunakan tingkat pengembalian atas investasi yang dihitung dengan mencari tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang diharapkan terhadap nilai sekarang biaya proyek atau sama dengan tingkat diskonto yang membuat NPV sama dengan nol. Dengan rumus umum sebagai berikut :

Ao = A1/(1+IRR)1 + A2/(1+IRR)2 + ….. + An/(1+IRR)n

Apabila Ao adalah investasi pada periode 0 dan A1 sampai An adalah aliran bersih dari periode 1 sampai n, maka metode IRR semata mata mencari discount factor yang menyamakan A0 dengan A1 sampai An Penerimaan atau penolakan usulan investasi ini adalah dengan membandingkan IRR dengan tingkat bunga yang disyaratkan (required rate of return). Apabila IRR lebih besar dari pada tingkat bunga yang disyaratkan maka proyek tersebut diterima, apabila lebih kecil diterima. Kelemahan secara mendasar menurut teori memang hamper tidak ada, namun dalam praktek penghitungan untuk menentukan IRR tersebut masih memerlukan penghitungan NPV

Perbandingan NPV dan IRR
Apabila terdapat satu proyek yang independen maka NPV dan IRR akan selalu memberikan rekomendasi yang sama untuk menerima atau menolak usulan proyek tersebut, namun apabila ada proyek2 yang mutually exclusive, NPV dan IRR tidak selalu memberikan rekomendasi yang sama. Hal ni disebabkan oleh dua kondisi:
  1. Ukuran proyek berbeda, salah satu lebih besar daripada yang lain
  2. Perbedaan waktu. Waktu dari aliran kas dari dua proyek berbeda. Satu proyek aliran kasnya terjadi pada tahun-tahun awal sementara proyek yang lain aliran kasnya terjadi pada tahun-tahun akhir
Intinya adalah untuk proyek-proyek yang mutually exclusive, maka pilihan yang tepat yaitu proyek dengan NPV tertinggi.
READ MORE - CAPITAL BUDGETING >

MERGER

Posted by Artikel Menarik | 8:30 AM | | 0 comments »

DASAR PEMIKIRAN DIBALIK MERGER


Sinergi
Motivasi utama di balik kebanyakan merger adalah untuk meningkatkan nilai dari perusahaan gabungan. Jika perusahaan A dan B bergabung untuk membentuk perusahaan C, dan jika nilai C melebihi nilai dari A dan dan B jika dilihat secara terpisah, maka sinergi tersebut dapat dikatakan telah terjadi.

Pertimbangan Pajak
Pertimbangan pajak telah mendorong pula terjadinya sejumlah merger. Sebagai contoh, perusahaan yang menguntungkan dan berada di rentang pajak tertinggi dapat mengakuisisi sebuah perusahaan yang memiliki akumulasi kerugian pajak dalam jumlah besar. Kerugian secara pajak ini selanjutnya dapat langsung diubah menjadi penghematan pajak daripada dibawa ke tahun berikutnya dan digunakan di maa mendatang. Jika perusahaan mengalami kekurangan peluang investasi internal jika dibandingkan dengan arus kas bebas yang tersedia, maka perusahaan dapat (membayarkan dividen tambahan, (2) berinvestasi pada sekuritas, (3) membeli kembali sahamnya, atau (4) membeli perusahaan lain.

Pembelian Aktiva di Bawah Biaya Penggantinya
Terkadang perusahaan akan dipandang sebagai kandidat akuisisi karena biaya penggantian aktivanya jauh lebih tinggi daripada nilai pasarnya. Sebagai contoh, di awal tahun 1980-an, perusahaan minyak dapat membeli cadangan dengan harga lebih murah melalui pembelian perusahaan minyak lainnya daripada melakukan pengeboran eksplorasi.

Diversifikasi
Para manajer sering kali menyebutkan diversifikasi sebagai salah satu alasan dari merger. Mereka berpendapat bahwa diversifikasi akan membantu menstabilisasi keuntungan perusahaan dan akibatnya memberikan keuntungan bagi para pemiliknya. Stabilisasi keuntungan sudah pasti merupakan hal yang menguntungkan bagi para karyawan, pemasok dan pelanggan, namun dari sudut pandang pemegang saham, stabilisasi merupakan nilai yang kurang pasti.

Insentif Pribadi Manajer
Ekonom keuangan suka berpendapat bahwa keputusan bisnis hanya didasarkan atas pertimbangan ekonomi saja, khususnya dalam hal memaksimalkan nilai sebuah perusahaan. Namun, banyak keputusan bisnis sebetulnya lebih didasarkan pada motivasi pribadi manajer daripada pada analisis ekonomi.
Petimbangan pribadi akan dapat menghalangi sekaligus juga dapat memotivasi merger. Setelah sebagian besar pengambilalihan, sebagian manajer dari perusahaan yang diakusisi kehilangan pekerjaan mereka, atau paling tidak otonomi yang mereka miliki. Karenanya, para manajer yang memiliki kurang dari 51% saham perusahaan mereka mencoba mencarai cara yang akan memperkecil peluang erjadinya pengambilalihan. Merger defensif seperti itu sangat sukar untuk dipertahankan berdasarkan alasan ekonomi.

Nilai Residu
Perusahaan dapat dinilai dari nilai bukunya, nilai ekonominya, maupun nilai penggantinya. Baru-baru ini, para spesialis pengambilalihan perusahaan telah mulai mengakui nilain residu sebagai salah satu basis lain untuk melakukan valuasi.

JENIS MERGER
Terdapat empat jenis merger:
  1. Merger horisontal, terjadi ketika sebuah perusahaan bergabung dengan perusahaan lain di dalam lini bisnis yang sama.
  2. Merger vertikal, berupa akuisisi sebuah perusahaan dengan salah satu pemasok atau pelanggannya.
  3. Merger kongenerik akan melibatkan perusahaan-perusahaan yang saling berhubungan tetapi bukan merupakan produsen dari sebuah produk yang sama atau perusahaan yang memiliki hubungan pemasok-produsen.
  4. Merger konglomerat, terjadi ketika perusahaan-perusahaan yang tidak saling berhubungan bergabung.
TINGKAT AKTIVITAS MERGER
Lima ”gelombang merger” besar telah terjadi di Amerika Serikat. Gelombang pertama terjadi di akhir tahun 1800-an, ketika terjadi konsolidasi dalam industri minyak, baja, tembakau, dan industri dasar lainnya. Gelombang kedua terjadi pada tahun 1920-an, ketika naiknya bursa saham membantu para promotor keuangan mengonsolidasi perusahaan-perusahaan di sejumlah industri, termasuk di antaranya fasilitas umum, komunikasi, dan kendaraan bermotor.
Gelombang ketiga terjadi pada 1960-an, ketika merger konglomerat terjadi dimana-mana. Keempat terjadi pada 1980-an, ketika perusahaan-perusahaan LBO dan perusahaan lain mulai menggunakan obligasi sampah untuk mendanai berbagai jenis akuisisi. Gelombang kelima, yang berhubungan dengan aliansi strategis yang dirancang untuk memungkinkan perusahaan berkompetisi secara lebih baik di dalam perekonomian global, masih terus berlanjut hingga saat ini.

PENGAMBIL ALIHAN PAKSA VS PENGAMBIL ALIHAN BERSAHABAT
Menurut konvensi yang ada, kita menyebut perusahaan yang ingin mengakuisisi perusahaan lain sebagai perusahaan pengakusisi dan perusahaan yang ingin diakuisisi sebagai perusahaan sasaran.
Setelah perusahaan pengakuisisi mengidentifikasi calon sasaran, maka perusahaan tersebut harus (1) menentukan harga atau rentang harga yang pantas, dan (2) untuk sementara menentukan persyaratan pembayaran—apakah perusahaan akan menawarkan uang tunai, saham biasa, obligasi, atau kombinasi antara keduanya? Jika tercapai suatu kesepakatan, maka kedua kelompok manajemen akan mengeluarkan pernyataan kepada masing-masing pemegang sahamnya yang menunjukkan bahwa mereka menyetujui merger, dan manajemen perusahaan sasaran akan memberikan rekomendasi kepada para pemegang sahamnya bahwa mereka telah menyetujui merger tersebut. Biasanya, para pemegang saham akan diminta untuk menwarkan saham mereka kepada sebuah lembaga keuangan yang telah ditunjuk, berikut surat kuasa yang telah ditandatangani yang memindahkan kepemilikan atas saham tersebut kepada perusahaan pengakuisisi. Cara ini disebut merger bersahabat.
Namun seringkali, manajmen perusahaan sasaran akan menolak merger. Mereka mungkin merasa bahwa harga yang ditawarkan terlalu rendah atau mungkin juga mereka berusaha mempertahankan pekerjaan mereka. Apapun kondisinya, penawaran perusahaan pengakuisisi bersifat paksa daripada bersahabat.

REGULASI MERGER
Sebelum pertengahan 1960-an, akuisisi secara bersahabat pada umumnya terjadi dalam bentuk merger melalui pertukaran saham sederhana, dan perebutan mandat adalah senjata utama yang digunakan dalam perang atas pengendalian secara paksa. Namun, pertengahan tahun 1960-an para penjarah perusahaan mulkai beroperasi dengan cara berbeda. Pertama, menjalani perebutan mandat akan membutuhkan waktu yang lama—para penjarah tersebut harus terlebih dahulu meminta daftar pemegang saham perusahaan sasaran, ditolak, dan kemudian berusaha mendapatkan surat perintah pengadilan yang memaksa menajemen menyerahkan daftar tersebut.
Kemudian para penjarah mulai berpikir bahwa jika kita membawa keputusan langsung kepada sasaran dengan cepat, sebelum manajemen sempat mengambil tindakan pencegahan, maka hal tersebut tentu akan meningkatkan peluang keberhasilan. Hal tersebut kemudian menyebabkan penjarah berpaling dari perebutan mandat ke pengajuan penawaran, yang memilki waktu respon jauh lebih singkat.
Hal ini tidak adil bagi perusahaan sasaran sehingga akhirnya Kongres mengeluarkan Undang-undang Williams (Williams Act) pada tahun 1968. Peraturan ini memiliki dua tujuan: (1) mengatur cara perusahaan pengakuisisi dapat menstrukturisasi pengajuan penawaran, dan (2) memaksa perusahaan pengakuisisi mengunkapkan lebih banyak informasi tentang penwaran yang diberikan.

ANALISIS MERGER
Secara teori, analisis merger sebenarnya cukup sederhana. Peusahaan pengakuisisi hanya perlu melakukan suatu analisis untuk menilai perusahaan sasaran dan kemudian menentukan apakah perusahaan sasaran dapat dibeli pada nilai tersebut, atau, yang lebih disukai lagi, lebih rendah dari estimasi nilai tersebut.

MENILAI PERUSAHAAN SASARAN
Dalam menilai perusahaan sasaran, terdapat beberapa metodologi yang dapat digunakan, namun, kita membatasi pembahasan ini hanya pada dua metodologi: (1) pendekatan arus kas terdiskonto, dan (2) metode perkalian pasar.
  • Analisis Arus Kas Terdiskonto
Pendekatan arus kas terdiskonto dalam menilai suatu bisnis akan melibatkan penerapan prosedur-prosedur penganggaran modal atau keseluruhan perusahaan daripada hanya satu proyek saja. Untuk menerapkan metode ini, ada dua hal yang penting dibutuhkan: (1) laporan proforma yang meramalkan peningkatan arus kas bebas sebagai akibat dari merger, dan (2) suatu tingkat diskonto, atau biaya modal, yang akan diterapkan pada proyeksi arus kas.
Laporan arus kas pro forma. Mendapatkan ramalan arus kas pascamerger yang akurat sejauh ini merupakan tugas penting dalam pendekatan DCF. Dalam suatu merger keuangan murni, dimana tidak diharapkan tejadi suatu sinergi, peningkatan arus kas pascamerger sebenarnya adalah ekspektasi arus kas dari perusahaan sasaran. Namun, dalam merger operasi, dimana operasi kedua perusahaan akan diintegerasikan, meramalkan arus kas di masa mendatang adalah suatu hal yang lebih sulit dilakukan.
Mengestimasikan tingkat diskonto. Jumlah total arus kas bersih adalah setelah bunga dan pajak, sehingga akan mencerminkan ekuitas. Karena itu, arus kas tersebut seharusnya didiskontokan oleh biaya ekuitas dan bukannya dari keseluruhan biaya modal. Lebih jauh, tingkat diskonto yang digunakan seharusnya mencerminkan tingkat risiko dari arus kas di dalam tabel.

  • Analisis Perkalian Pasar
Metode kedua dalam menilai perusahaan sasaran adalah analisis perkalian pasar (multiple market analysis) yaitu suatu metode penilaian sebuah perusahaan sasaran yang menerapkan perkalian yang ditentukan oleh pasar pada laba bersih, laba per lembar saham, penjualan, nilai buku, dan seterusnya.

Menentukan Harga Penawaran
Metode dengan menentukan harga penawaran adalah dengan melihat jumlah tertinggi yang dapat dibayarkan, yang mencerminkan keuntungan sinergis yang diharapkan dari merger, berikut beberapa hal yang perlu dicatat :
  1. Jika terdapat keuntungan sinergis, penawaran maksimum yang diberikan akan sama dengan nilai perusahaan saat ini.
  2. Semakin besar keuntungan sinergis, maka semakin besar kemungkinan merger tersebut dilaksanakan.
  3. Masalah mengenai membagi keuntungan sinergis juga merupakan hal yang sangat penting, kedua belah pihak menginginkan mendapat jumlah sebesar mungkin.
  4. Harga aktual akan tergantung beberapa faktor, termasuk apakah perusahaan menawarkan untuk membayar dalam bentuk tunai atau sekuritas, keahlian negosiasi diantara kedua tim manajemen dan yang paling penting, posisi penawaran kedua belah pihak yang ditentukan oleh kondisi ekonomi mendasar dari masing-masing perusahaan
  5. Perusahaan akan ingin merahasiakan penawaran maksimumnya dan perusahaan merencanakan strategi penawaran secara hati-hati dan konsisten dengan situasi. Perusahaan dapat memberikan penawaran antisipasi yang tinggi dengan harapan dapat menakut-nakuti penawaran saingan atau penolakan manajemen.
Pengendalian Pasca Merger
Situsai pengendalian merupakan hal yang vital dalam suatu analisis merger. Pertama pertimbangkanlah sebuah situasi dimana sebuah perusahaan kecil dikelola oleh pemiliknya dijual kepada suatu kepentingan yang lebih besar.
READ MORE - MERGER >

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...