Showing posts with label FENOMENA. Show all posts
Showing posts with label FENOMENA. Show all posts

Hujan Kodok: Fenomena Cuaca Ekstrem

Posted by Artikel Menarik | 1:14 AM | | 0 comments »

Manusia  mengenal hujan sebagai sebuah proses alamiah yang terjadi di bumi. Sebuah proses  perubahan gas menjadi cair. Itulah sebabnya mengapa hujan yang kita alami berbentuk tetesan air. Jika hawa atau suhu yang dibentuk berada  pada posisi sangat rendah, maka hujan yang turun akan berbentuk es atau  yang biasa dikenal dengan istilah hujan salju. 
Turunnya tetesan air atau salju dari atas langit adalah hal yang biasa,  tapi apa jadinya jika hewan seperti kodoklah yang turun dari atas langit
dalam jumlah yang cukup banyak dan dalam waktu yang bersamaan? Fenomena  Hujan Kodok  yang terjadi di  Negara Jepang baru-baru ini cukup mendapat perhatian yang cukup tinggi  dari masyarakat dunia.


      Hujan Kodok di Jepang

Hujan kodok adalah fenomena yang terjadi dan dialami oleh masyarakat  Jepang  pada bulan Juni  2009 lalu. Masyarakat Jepang dikagetkan dengan berjatuhannya ikan  berbentuk mirip kodok di beberapa kota di Jepang. Kota-kota yang  ?didatangi? pasukan kodok dari atas langit  diantaranya adalah Taiwa,  Nakanoto, Asahi, dan Kuki. 

Kodok yang berjatuhan di sebagian kota Jepang itu lebih menyerupai anak   kodok atau kecebong.  Bentuknya kecil, tidak sebesar kodok-kodok normal. Hewan itu memiliki  buntut dan memipih di bagian depan, persis seperti kecebong. Panjang  kodok tersebut diperkirakan 5 cm.

Jika hujan kodok terjadi di Indonesia  , fenomena  mistis pasti mengiringi pemberitaannya. Masyarakat Indonesia yang masih  akrab dengan hal-hal ghaib seperti itu bisa dipastikan akan  menghubungkan fenomena aneh tersebut dengan hal-hal yang kurang logis. Padahal jika dilihat dari kacamata keilmuan, fenomena Hujan Kodok ini bisa dijelaskan secara ilmiah. Meskipun hingga kini, para ahli belum bisa menjelaskan secara gamblang apa penyebab Hujan Kodok tersebut.

Hujan Kodok yang terjadi di Jepang terjadi selama beberapa hari . Tepatnya pada tanggal 9, 15, 16 dan 17 Juni. Beberapa saksi mata merasa kaget mengetahui ada sekumpulan kodok yang berjatuhan dari langit. Menurut saksi mata, ketika Hujan Kodok terjadi pada 15 Juni, keadaan cuaca Jepang sedang bagus . Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Perubahan cuaca yang sangat ekstrem dirasa sebagai salah satu penyebab terjadinya Hujan Kodok di Jepang. Fenomena Hujan Kodok ternyata pernah terjadi sebelumnya. Dua negara  yaitu Inggris dan Serbia juga pernah mengalami fenomena cuaca yang aneh ini. Jika Serbia mengalaminya pada 2005, Inggris  sudah merasakannya lebih dulu. Fenomena Hujan Kodok di London terjadi pada 1998.


      Fenomena Hujan Kodok
Fenomena hujan binatang ini sebenarnya termasuk dalam kategori fenomena  yang sudah umum terjadi. Binatang  yang sering muncul dalam fenomena ini adalah ikan dan kodok. Ketika terjatuh, binatang-binatang itu tak jarang masih dalam keadaan hidup  Menurut beberapa saksi yang pernah melihat fenomena ini secara langsung mengatakan bahwa, gerakan dari para binatang itu sangat agresif. Menunjukkan bahwa mereka tengah ketakutan. Pada beberapa kejadian, ikan atau kodok tersebut terjatuh dari atas langit dalam keadaan beku atau terbalut dalam bongkahan es.

Keadaan seperti itu menunjukkan betapa rendahnya suhu yang membawa binatang itu lalu menjatuhkannya ketika suhu sudah sedikit menurun. Binatang itu seolah terbawa oleh awan  yang terbentuk karena proses perubahan air laut. Ketika hujan binatang akan turun, keadaan cuaca tidak berbeda jauh dengan ketika hujan air akan turun. Langit gelap dan mendung, kemudian hujan yang turun dibarengi dengan petir dan angin  yang kencang.
READ MORE - Hujan Kodok: Fenomena Cuaca Ekstrem >

Puluhan Ribu Lebah Kanada Mati

Posted by Artikel Menarik | 8:48 PM | | 0 comments »


Sebuah museum di Kanada mengadakan penyelidikan, Jumat (11/2) waktu setempat, mengenai penyebab kematian mendadak 20 ribu lebah koleksi mereka.

“Seluruh 20 ribu lebah kami mati dalam waktu 48 jam,” papar kurator Royal Ontario Museum Amanda Fruci. Sarang lebah-lebah tersebut diletakkan dalam ruangan kaca, agar bisa dilihat pengunjung.

Menurut Fruci, pihak museum hingga kini masih belum yakin mengapa koloni lebah peliharaan mereka itu tiba-tiba terkena sindrom kolaps. Sebab, sindrom itu biasanya menimpa lebah yang meninggalkan sarangnya dan tak pernah kembali.

“Dalam kasus ini, mereka mati di dalam sarangnya sendiri,” papar Fruci yang menyatakan dalam keadaan normal, koloni lebah memang kehilangan 5% populasinya. Jika terkena sindrom kolaps atau colony collapse disorder (CDD), bisa sampai 90% tewas.

Misteri kematian massal populasi lebah juga dilaporkan pada koloni-koloni di Eropa, Jepang dan beberapa bagian bumi lainnya, dalam beberapa tahun terakhir ini. Sejumlah tanaman pertanian terancam, terutama yang bergantung pada lebah untuk penyerbukan.

Pihak Royal Ontario Museum menyingkirkan kemungkinan bahwa penyebab kematian adalah kesalahan perawatan atau kelaparan pada lebah-lebah itu. Namun, beberapa penyebab yang mungkin adalah ventilasi rendah, parasit atau sarang yang kurang hangat.

Kematian massal lebah seringkali dikatakan sebagai kiamat ekologi. Hal ini disebabkan banyaknya tanaman yang bergantung pada hewan penghasil madu ini untuk proses penyerbukan. Meski begitu, kasus kali ini menimpa lebah-lebah koleksi museum.


INILAH.COM
READ MORE - Puluhan Ribu Lebah Kanada Mati >

Fenomena Alam Laut Terbelah Menjadi Dua

Posted by Artikel Menarik | 6:31 PM | | 0 comments »

Ini adalah penomena alam yang paling mengagumkam di Korea Selatan yang
dinamai “Moses Miracle”, dua kali setahun terjadi air surut, terbuka suatu alur daratan sepanjang 2.8 kilometer dan lebar 40 meter yang menghubungkan pulau Jindo dan Modo selama beberapa jam.

Suatu festival diadakan untuk mengingatkan kejadian alam dan dihadiri orang-orang dari segala penjuru dunia ini.






http://www.menjelma.com/2011/08/fenomena-alamlaut-terbelah-menjadi-dua.html
READ MORE - Fenomena Alam Laut Terbelah Menjadi Dua >

Ada Mayat di Kubah Masjid Nabi

Posted by Artikel Menarik | 6:22 PM | | 0 comments »

Selain Masjid Nabawi, tempat bersejarah dan penuh berkah lainnya di kota Madinah adalah kompleks pemakaman Baqi. Di tempat itulah dimakamkan para imam ahlulbait, keluarga nabi, dan juga para sahabat termasuk kalangan syuhada. Dahulu, tempat tersebut cukup rapi dengan bangunan dan kubah tempat orang berkumpul untuk berziarah. Sampai akhirnya, kelompok Wahabi menguasai Jazirah Arab.

Secara bertahap dan dengan alasan yang rapuh, pada hari Rabu 8 Syawal 1345 H bertepatan dengan 21 April 1925, pemakaman Baqi dihancurkan secara total oleh Raja Abdul Aziz dari Arab Saudi. Pada tahun yang sama, ia juga menghancurkan makam manusia suci di Jannatul Mualla (Mekkah) di mana ibunda Nabi Muhammad (Siti Aminah as.), istri Nabi, kakek dan leluhur Nabi dikuburkan. (Baca: Makam Keluarga dan Sahabat Nabi Dihancurkan).



Ada satu bangunan berkubah yang belum dihancurkan: Kubah Hijau Nabi. Ada sebuah kisah tentang usaha penghancuran kubah Masjid Nabawi yang layak diambil hikmahnya oleh kita. Inilah sebuah mukjizat yang telah terjadi sekitar 90 tahun yang lalu yang disampaikan oleh Syekh Az-Zubaidi.


Seseorang berusaha untuk menghancurkan Kubah Masjid Nabawi di mana di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad saw. Namun, ketika orang itu memanjat kubah dan memulai menghancurkannya, tiba-tiba sebuah kilat menyambarnya dan ia tewas seketika. Tidak ada seorangpun yang mampu memindahkan mayat tersebut dari atas kubah.


Dikisahkan pula, ada orang saleh dari Madinah yang dalam mimpinya mendengar sebuah suara yang mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengangkat mayat tersebut dari kubah. Hal itu sebagai sebuah peringatan dan pelajaran bagi mereka yang berpikir dan berusaha untuk menghancurkannya di masa mendatang!


Akhirnya, mayat tersebut tetap berada di atas kubah dan ditutupi dengan kotak hijau agar tidak terlihat oleh orang-orang. Wallahualam.





Catatan: Anda bisa mencari gambar Kubah Hijau yang lain dan menemukan semacam titik berwarna gelap karena kotak tersebut telah diikat dengan tali. Informasi ini pertama kali saya dapat dari Ust. Abbas Alhabsyi.




http://jelajahunik.blogspot.com/2011/08/ada-mayat-di-kubah-masjid-nabi.html
READ MORE - Ada Mayat di Kubah Masjid Nabi >


Headline
Jakarta - Pada abad pertengahan, ahli numerologi yang mencari arti mistis angka yakin, semua angka memiliki aspek positif dan negatif kecuali 11. Bagaimana dengan 11/11/11?Filolog Petrus Bungus dari abad 16 mengatakan, 11 tak memiliki hubungan dengan hal-hal suci, bukan merupakan tangga menuju puncak atau jasa apapun. Terjebak antara angka suci 10 dan 12, 11 merupakan angka yang murni jahat dan mewakili orang-orang berdosa.
Bahkan, saat ada tiga angka 11 selaras untuk pertama kalinya dalam satu abad, sebuah film baru bertajuk ‘11/11/11’ dibuat untuk menakuti orang. Karakter pada film ini mengalami fenomena 11:11 atau’ kecenderungan melihat jam lebih sering di 11.11 dibanding waktu lain di hari itu.
Dalam film, ini menjadi peringatan dari apa yang akan datang. “Pada hari kesebelas di bulan kesebelas tahun kesebelas, gerbang akan terbuka pada hari ini, darah tak berdosa akan tumpah,” demikian sulih suara pada trailer film ini.
Kenyataannya, fenomena 11.11 dilaporkan secara luas di kehidupan nyata dan seluruh forum diskusi online mendedikasikan diri untuk mencari tahu apa arti angka itu. Banyak yang mengaku merasa dihantui 11 yang tampak menakutkan. Bagi mereka, tanggal ini hanya tampaknya saja menyenangkan.
Di sisi lain, beberapa ahli numerologi modern menganggap 11/11/11 menguntungkan. Menurut sumber berita lokal di banyak tempat, jumlah pasangan yang merencanakan menikah hari ini tak biasa alias superbanyak.
Angka 11 juga merupakan angka favorit penjudi, khususnya pemain blackjack dan Keno. Jadi, di tengah semua perspektif alternatif ini, apa kesepakatan nyata mengenai pengulangan 11 ini? Apakah ada sesuatu hal khusus di balik baris angka-angka ini?
Menurut profesor studi religi University of Pacific, tak ada hal khusus pada tanggal ini. Terkait fenomena 11.11, ini bukanlah tanda peringatan supranatural. Psikolog mengatakan, ini kasus klasik ‘apophenia’ atau kecenderungan manusia menemukan makna atau pola dalam data yang terjadi secara acak.
Kondisi ini seperti memberi makan dirinya sendiri di saat manusia makin sadar pada sesuatu seperti pengulangan angka 11. Alhasil, Anda makin sering melihatnya di dunia di sekitar Anda. Demikian, Anda makin yakin pola tersebut adalah nyata.
Dalam forum online fenomena 11.11, banyak orang mengaku tak menyadari berapa banyak 11 hingga akhirnya mereka mendengar mengenai fenomena ini dari orang lain. Ini merupakan tanda kirim-kisah apophenia.
Saat orang mengetahui fenomena tersebut, mereka sadar mulai melacak segala hal mengenai 11 dengan tiap pengamatan baru. Sama seperti tak ada yang perlu ditakutkan mengenai 11/11/11, tak ada alasan bersikap optimis pada tanggal ini pula.
Menurut Lenzi yang mempelajari Alkitab numerologi, mencari makna dalam angka merupakan kecenderungan alami manusia. “Para ilmuwan kognitif menunjukkan, otak manusia terprogram mencari pola yang bermakna dalam data sensoris yang dikumpulkan dari dunia,” kata Lenzi.
Di kebanyakan situasi, ini hubungan kognitif ini membantu manusia untuk bisa mengambil informasi penting dari latar belakang kebisingan yang acak. Namun terkadang, manusia berlebihan dalam melakukannya dengan mencari pola yang tak seharusnya mereka cari.
“Mulai dari wajah yang muncul di awan hingga angka. Setelah ditemukan, pola-pola ini ‘mudah dijiwai dengan makna imajinatif,’ katanya.
Tak ada hal luar biasa mengenai 11.11 atau tanggal 11/11/11, namun otak manusia tak bisa mengabaikan melihat angka berulang itu dan menganggapnya memiliki makna. Angka yang sudah signifikan bagi kita.
“Seperti tanggal kalender yang juga kebetulan jatuh pada pola yang jelas menjadi dua kali lipat signifikan. 11/11/11 merupakan contoh lain di mana manusia secara kognitif memiliki kecenderung mencari makna,” pungkasnya.



INILAH.COM
READ MORE - Fenomena 11 November 2011, Istimewa atau Mistis? >

Bentuk Bumi Makin Gendut di Khatulistiwa

Posted by Artikel Menarik | 3:05 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com - Bumi semakin besar di bagian khatulistiwa. Fakta itu terungkap dari penelitian terhadap data yang dikumpulkan oleh satelit Gravity Recover and Climate Experiment (GRACE) milik NASA dan German Space Agency. Disebutkan, bertambahnya penumpukan di khatulistiwa itu disebabkan oleh mencairnya lapisan es di Greenland dan Antartika.

Menurut Steve Nerem, ilmuwan asal University of Colorado, Amerika Serikat, hingga 22 ribu tahun lalu, es hingga beberapa kilometer menyelimuti sebagian besar belahan utara Bumi. Berhubung tekanan akibat bobot dari es di daratan telah berkurang karena mencair, tanah di bawahnya telah memantul dan menyebabkan Bumi menjadi lebih lonjong. "Mirip dengan spons, dan dibutuhkan waktu yang cukup lama agar Bumi kembali ke bentuk asalnya," kata Nerem.

Sebagai informasi, sejak awal, planet Bumi memang tidak bulat sempurna. Akibat perputaran rotasinya, air di permukaan Bumi lebih banyak terkumpul di kawasan khatulistiwa dibandingkan dengan di kutub.

Para ilmuwan sendiri mengamati terjadinya "penyusutan lemak" di lingkar khatulistiwa. Akan tetapi, kemudian terjadi perubahan. Di sekitar pertengahan 1990-an, diketahui bahwa tren telah berbalik dan Bumi kembali tambah "gendut di lingkar pinggangnya", sama seperti bola yang ditekan dari atas dan bawahnya. Namun mereka tidak memiliki alat untuk memastikan mengapa hal itu bisa terjadi, hingga baru-baru ini.

Dengan GRACE, peneliti dapat menguji coba teori yang menyatakan bahwa hilangnya es merupakan faktor pengubah bentuk planet Bumi. GRACE mengambil gambar dari permukaan Bumi setiap 30 hari sehingga memungkinkan peneliti memantau perubahan massa es terhadap perubahan gravitasi. Jadi, jika ada perubahan terhadap bentuk Bumi, maka akan ada perubahan terhadap distribusi massa. Akibatnya, medan gravitasi juga berubah.

Peneliti menemukan, mencairnya gletser di Greenland dan Kutub Selatan merupakan kontributor terbesar terhadap membengkaknya "lingkar pinggang" Bumi karena banyak air yang dibawa ke khatulistiwa. Menurut data, dua belahan Bumi kehilangan 382 miliar ton es per tahunnya. Berkurangnya beban yang perlu ditanggung benua memungkinkan tanah untuk naik dan membuat planet menjadi lebih bulat, namun proses ini membutuhkan waktu ribuan tahun. Sementara itu, pertumbuhan ketebalan di khatulistiwa mencapai 0,7 sentimeter per dekade.

Saat ini, kata Nerem, radius planet Bumi 21 kilometer lebih besar di khatulistiwa dibandingkan di kutub. Artinya, titik paling jauh permukaan Bumi dari inti Bumi bukanlah di puncak gunung Everest, melainkan di puncak gunung berapi di Ekuador yang lebih dekat ke khatulistiwa. (National Geographic Indonesia/Abiyu Pradipa)
READ MORE - Bentuk Bumi Makin Gendut di Khatulistiwa >

Pohon Lebih Merana di Musim Dingin

Posted by Artikel Menarik | 3:03 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com - Pepohonan di kawasan barat laut Amerika Utara, yang merupakan kawasan dengan ukuran batang tertinggi di dunia, menghadapi ancaman besar, justru di musim dingin. Hal ini tidak sesuai dengan anggapan ilmuwan bahwa pohon lebih merana di musim panas.

Dari sebuah studi yang dilakukan, terungkap bahwa pepohonan di sana mengalami krisis air di musim dingin. Menurut peneliti dari Oregon State University dan US Forest Service, meski pepohonan itu berdiri tegak di sekitar kawasan danau, namun mereka tidak mendapatkan pasokan air karena aliran air membeku. Meski penyebabnya berbeda dengan krisis air di musim kering, hasil akhir krisis tersebut serupa.

"Semua orang mengira bahwa musim panas merupakan musim yang paling berat bagi pepohonan. Tetapi dari sisi air, musim dingin bahkan lebih menyulitkan para pohon," kata Katherine McCulloch, peneliti dari Oregon State University.

Pohon punya kemampuan lebih baik mengatasi kesulitan air di musim panas dibandingkan musim dingin. Saat musim panas, mereka menutup stomata (lubang pori-pori di daun atau bagian pohon lainnya), menyimpan air, dan mengurangi fotosintesis serta pertumbuhan.

Di kawasan perairan dengan curah hujan mencapai 2 meter per tahun, McCulloch dan timnya melihat pohon dengan xilem (selaput kayu) di cabang-cabang kecil di bagian atas tidak bisa menyalurkan air sebanyak ketika di musim panas. Ternyata siklus pembekuan dan pencairan air merupakan masalah terbesar dari transportasi air di dalam pohon.

Peneliti menyebutkan, studi semacam ini dinilai sangat penting untuk lebih memahami cara hutan bisa merespons iklim yang lebih hangat atau kering di masa depan. Meski kini peneliti mengetahui bahwa pohon lebih mampu bertahan dalam menghadapi musim kemarau dibanding perkiraan sebelumnya, namun belum tentu pohon bisa bertahan di masa yang akan datang.

"Jika iklim menghangat, kita kemungkinan akan mengalami siklus musim dingin yang lebih dingin," kata McCulloch. "Ada banyak variabel efek dari perubahan iklim yang sejauh ini belum bisa kita pahami," ucapnya.

Penelitian itu sendiri dilakukan di fasilitas penelitian Wind River Canopy Crane, dan hasilnya telah dipublikasikan di American Journal of Botany. (National Geographic Indonesia/Abiyu Pradipa)
READ MORE - Pohon Lebih Merana di Musim Dingin >

Saatnya Meluruskan Arah Kiblat

Posted by Artikel Menarik | 2:58 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com — Beberapa hari ini adalah waktu yang tepat untuk meluruskan arah kiblat ke Kabah di Mekkah, Arab Saudi, sebagai penunjuk arah shalat bagi umat Islam. Hal tersebut karena Matahari akan berada tepat di atas Kabah sehingga arah jatuhnya bayangan tepat ke sana.

Matahari akan berada di atas Mekkah, Arab Saudi, Sabtu, 28 Mei 2011 pukul 12.18 waktu setempat atau pukul 16.18 waktu Indonesia barat. Saat itu, bayangan di seluruh dunia yang masih bisa melihat Matahari mengarah ke Kabah.

Bayangan ke arah Kabah yang dapat dijadikan patokan arah kiblat itu dapat diperoleh dari benda yang berdiri tegak lurus di tempat datar. Cara itu dapat digunakan di sejumlah wilayah yang tak bisa melihat Kabah secara langsung.

"Ini cara paling sederhana dan paling mudah dengan akurasi tinggi dalam menentukan arah kiblat," kata Deputi Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, yang juga anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama, Thomas Djamaluddin, Senin (23/5/2011) di Jakarta.

Meski demikian, penentuan kiblat tidak perlu terpaku pada hari dan jam saat Matahari benar-benar tepat di atas Mekkah. Pergeseran Matahari yang lambat membuat Matahari berada di atas Mekkah selama dua hari sebelum dan sesudah 28 Mei serta dalam rentang waktu lima menit sebelum dan sesudah pukul 16.18 WIB.

Artinya, pelurusan arah kiblat dapat dilakukan pada 26-30 Mei pukul 16.13-16.23 WIB. Jadi masih ada waktu dua hari kesempatan meluruskan arah kiblat Anda. Jangan khawatir, dalam setahun akan ada momen yang sama beberapa kali lagi jika saat ini terlewatkan.(M Zaid Wahyudi)
READ MORE - Saatnya Meluruskan Arah Kiblat >

Misteri Kemampuan Melihat dengan Gema

Posted by Artikel Menarik | 2:55 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com - Sebagian penyandang tunanetra punya kemampuan khusus menghindari benda-benda di sekitarnya meskipun tidak bisa melihat. Mereka kemungkinan dapat memanfaatkan gema untuk "melihat". Bagian otak yang memproses visual digunakan untuk memproses suara. Demikian hasil yang didapati oleh sebuah studi oleh Stephen Arnott of the Rotman Research Institute in Toronto dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE.

Orang tunanetra mengeluarkan suara klik dengan lidah dan memanfaatkan pantulan suara untuk mengetahui posisi-posisi halangan--teknik yang sama dilakukan oleh kelelawar. Studi baru ini mencoba melihat otak penyandang tunanetra yang menggunakan teknik bernama "echolocation" tersebut.

Studi mendapati bahwa para penyandang tunanetra yang punya kemampuan memanfaatkan gema memiliki aktivitas otak di bagian visual saat mendengarkan suara klik mereka sendiri. Studi melibatkan dua orang tunanetra. "Data kami menunjukkan bahwa keduanya menggunakan gema dengan cara yang sama untuk melihat," kata peneliti.

Suara klik direkam saat kedua orang tunanetra berada di dekat suatu objek. Lalu, keduanya dimasukkan ke dalam mesin pemindai fMRI. Suara klik diputar kembali dan mesin mengukur jumlah darah yang mengalir ke berbagai area otak, menunjukkan aktivitas otak secara langsung.

Saat suara gema terdengar, bagian otak yang berhubungan dengan visual aktif. Uniknya, bagian visual itu hanya bereaksi terhadap gema. Ketika para peneliti memutar suara tanpa gema, bagian otak tersebut tidak aktif. Sementara itu, bagian otak yang berhubungan dengan pendengaran memiliki tingkat aktivitas yang sama, tidak tergantung suara yang diputar.

Arnott mengaku perlu ada penelitian lagi dalam skala yang lebih besar. "Tapi studi ini merupakan studi awal untuk memahami proses otak dan kemampuannya dalam membaurkan suara dan pandangan," katanya. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
READ MORE - Misteri Kemampuan Melihat dengan Gema >

Jejak Astronomis di Borobudur

Posted by Artikel Menarik | 2:52 PM | | 0 comments »


Candi Borobudur dengan stupa induk sebagai puncak candi di tengah kabut pagi difoto dari Puntuk Situmbu, Dusun Kurahan, Desa Karang Rejo, Kecamatan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (27/5/2010). Candi Borobudur dibangun sekitar abad VIII pada masa wangsa Syailendra berkuasa. Tahun 1991 Candi Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO.
1

KOMPAS.com — Kemegahan Candi Borobudur tidak hanya menunjukkan kemampuan rancang bangun nenek moyang bangsa Indonesia yang mengagumkan. Penempatan stupa terawang maupun relief di dinding Borobudur ternyata menunjukkan penguasaan mereka terhadap ilmu perbintangan alias astronomi.

Penelitian selama 2,5 tahun yang dilakukan Tim Arkeoastronomi Borobudur, Institut Teknologi Bandung, menunjukkan, stupa utama candi Buddha terbesar di dunia itu berfungsi sebagai gnomon (alat penanda waktu) yang memanfaatkan bayangan sinar Matahari. Stupa utama yang merupakan stupa terbesar terletak di pusat candi di tingkat 10 (tertinggi).

Stupa utama dikelilingi 72 stupa terawang yang membentuk lintasan lingkaran di tingkat 7, 8, dan 9. Bentuk dasar ketiga tingkat itu plus tingkat 10 adalah lingkaran, bukan persegi empat sama sisi seperti bentuk dasar pada tingkat 1 hingga tingkat 6.

Jumlah stupa terawang pada tingkat 7, 8, dan 9 secara berurutan adalah 32 stupa, 24 stupa, dan 16 stupa. Jarak antarstupa diketahui tidak persis sama. Pengaturan jumlah dan jarak antarstupa diduga memiliki tujuan atau makna tertentu.

"Jatuhnya bayangan stupa utama pada puncak stupa terawang tertentu pada tingkatan tertentu menunjukkan awal musim atau mangsa tertentu sesuai Pránatamangsa (sistem perhitungan musim Jawa)," kata Ketua Tim Arkeoastronomi ITB Irma Indriana Hariawang di Jakarta, Rabu (18/5/2011).

Tim beranggotakan satu dosen dan empat mahasiswa Astronomi ITB, satu mahasiswa Matematika ITB, dan seorang peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Temuan mereka dimuat dalam prosiding 7 International Conference on Oriental Astronomy di Tokyo, Jepang, pada September 2010.(M Zaid Wahyudi)

Kompas.com
READ MORE - Jejak Astronomis di Borobudur >


Selain hujan meteor Quadrantid, sebagian belahan bumi akan mendapat bonus pertunjukan angkasa lainnya pada hari Selasa (4/1) yaitu gerhana matahari parsial.

Atraksi langit tersebut akan terjadi pada pagi hari setelah hujan Meteor Quadrantid. Namun, hanya orang-orang yang berada di Eropa, bagian utara Afrika, dan Asia bagian barat saja yang akan mengalami fenomena alam itu. Tentu dengan syarat apabila cuaca mengizinkan dan langit tidat tertutup awan.

Bagian bayangan terluar bulan yang disebut penumbra akan menyapu belahan utara bumi. Daerah yang pertama kali mengalami gerhana adalah Algeria, negara terbesar kedua di benua Afrika. Kontak pertama matahari dengan penumbra akan terjadi saat matahari terbit di kota Salah, sebuah kota oasis di Algeria tengah yang terletak di jantung Gurun Sahara, di belahan utara Afrika.

Swedia adalah negara yang akan mendapat pertunjukan angkasa paling menarik dari gerhana parsial kali ini. Wilayah yang akan tertutupi bayangan bulan sampai dengan 80 persen pada saat matahari terbit adalah di bagian timurlaut Swedia sepanjang teluk Bothnia dekat kota Skellefteå. Di tempat itu matahari musim dingin akan tampak seolah terbit di cakrawala sebelah utara dengan bagian atas dan tengahnya tertutup bayangan bulan pada pukul 9:51 waktu setempat.

Pada akhirnya, bayangan akan menyelimuti hampir seluruh Eropa, belahan utara Afrika, kawasan Timur Tengah, dan Asia bagian barat. Bayangan bulan akan terus bergerak ke arah timur dan akhirnya meninggalkan permukaan bumi di Kazakhstan, tepatnya di utara Danau Balkhash sekira 4 jam 21 menit setelah pertama kali mendarat di Algeria.

Sumber: Space.com
READ MORE - Gerhana matahari sebagian setelah hujan meteor >

Mencari Asal-usul Kehidupan

Posted by Artikel Menarik | 12:19 PM | | 0 comments »


Oleh Agnes Aristiarini

KOMPAS.com — Dalam Frankenstein, buku klasik karya Mary Shelley yang terbit tahun 1818, Victor Frankenstein mengumpulkan potongan-potongan mayat dan menjahitnya menjadi tubuh yang utuh. Menggunakan aliran listrik, Frankenstein berhasil menciptakan kehidupan meski kemudian menyesalinya.

Dalam kehidupan nyata, manusia memang tak henti-hentinya mencari jawaban, apakah kehidupan ini ada karena suatu kuasa atau semata-mata proses alam?

Ada berbagai teori dan percobaan menyangkut asal-usul kehidupan. Dalam buku The Grand Design (2010), fisikawan Stephen Hawking bersama Leonard Mlodinow menjelaskan tentang penciptaan ini. Menurut mereka, ”Tata surya dapat membentuk dirinya sendiri karena ada hukum alam, seperti gravitasi. Maka, penciptaan spontan adalah sumber adanya ’sesuatu’ dan bukan kehampaan, adanya alam semesta dan adanya kita.”

Sebelum itu, para ahli biokimia sudah merumuskan berbagai teori dan menguji coba di laboratorium. Salah satu yang fenomenal adalah uji laboratorium yang dilakukan Stanley Miller, kandidat doktor di University of Chicago, Amerika Serikat, tahun 1953.

Miller mereproduksi kondisi atmosfer purba dengan hidrogen, air, metana, dan amonia dalam bejana dan memanasinya. Dalam seminggu ia menemukan endapan senyawa organik penyusun kehidupan: asam amino.

Ragam asam amino itu—glisin, alanin, aspartik, dan glutamik—adalah unsur dasar pembentuk protein, penyusun struktur sel, dan berperan penting dalam reaksi biokimia yang dibutuhkan kehidupan.

Bukti baru

Pekan lalu, Lembaga Aeronautika dan Antariksa AS (NASA) memublikasikan hasil pengujian terhadap bahan penelitian Miller. Bahan ini, dengan alasan yang tidak pernah diketahui, tidak pernah dicoba sampai Miller meninggal tahun 2007.

Bahan ini mengandung hidrogen sulfida (H2S) yang belum pernah digunakan sebelumnya. ”Hidrogen sulfida berfungsi menstimulasi kondisi awal atmosfer kita,” kata Eric Parker dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, dalam situs resmi NASA.

Parker adalah penulis utama laporan ilmiah tersebut dalam The Proceedings of the National Academy of Sciences.

”Sungguh mengagetkan, dengan menggunakan H2S, asam amino yang dihasilkan jauh lebih kaya dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya,” ujar Profesor Jeffrey Bada dari Scripps Institution of Oceanography, University of California. Ia berpartisipasi dalam penelitian ini.

Total diperoleh 22 jenis asam amino dan 10 jenis di antaranya belum pernah ditemukan dalam percobaan serupa. Salah satu dari asam amino tersebut, metionin, berperan besar dalam kode genetik. ”Metionin menginformasikan pada sel untuk menerjemahkan suatu desain menjadi protein,” kata Dr James Cleaves dari Carnegie Institution of Washington, anggota tim peneliti.

Kesimpulannya, penelitian menunjukkan peran gunung berapi pada pembentukan senyawa organik awal. Seperti diketahui, gunung berapi adalah sumber sulfur yang berlimpah. Kilat cahaya yang muncul saat gunung meletus, seperti aliran listrik yang membangkitkan kehidupan. Dengan demikian, kawasan gunung berapi bisa jadi menjadi lokasi awal mula kehidupan karena merupakan daerah yang kaya senyawa organik, baik jenis maupun jumlahnya.

Penelitian lebih lanjut pada meteorit— partikel antariksa yang tidak habis terbakar di atmosfer dan jatuh ke Bumi—menunjukkan bahwa selain kaya unsur karbon, meteorit juga mengandung beragam asam amino. Maka, bisa jadi molekul penting yang berperan dalam kehidupan berasal dari antariksa dan mempercepat munculnya kehidupan karena bahan bakunya sudah siap bersenyawa.

”Kami menemukan bahwa tipe asam amino yang dihasilkan dengan menambahkan H2S ternyata hampir sama dengan asam amino pada meteorit yang kaya karbon,” tutur D Jason Dworkin dari NASA Goddard yang memimpin Laboratorium Astrochemistry NASA.

Awal mula

Meski demikian, kerja Miller tak lepas dari teori-teori yang dihasilkan para ahli biokimia sebelumnya. Menurut John Haldane dari Inggris tahun 1929, atmosfer pada zaman Bumi purba tidak memiliki oksigen bebas.

Kemudian Haldane dan Aleksander Oparin dari Soviet menyatakan, ”Semua bahan baku kehidupan sudah ada di Bumi sejak awal mula, demikian juga dengan energi dari Matahari dan proses yang belum diketahui, tapi memicu munculnya kehidupan.”

Di Amerika, tahun 1952, ahli biokimia Harold C Urey mengelaborasi teori Haldane dan Oparin dengan menyebutkan unsur-unsur yang ada sejak terbentuknya semesta, yaitu hidrogen, oksigen, nitrogen, dan karbon. Inilah yang kemudian membentuk air, amonia, dan metana sebagai unsur dasar pembentuk kehidupan.

Adalah Stanley Miller yang kemudian mengombinasikan ide Haldane, Oparin, dan Urey dalam percobaannya. Selain menemukan senyawa organik penyusun kehidupan, percobaan Miller juga membuktikan betapa mudah asam amino terbentuk.

Pada tahun yang sama, 1953, penemuan struktur DNA—deoxyribonucleic acid yang membawa kode genetik—semakin membuktikan besarnya peran senyawa organik dasar menyusun kehidupan. Penemuan DNA juga membuka pemahaman terhadap beberapa senyawa, di antaranya asam nukleid, yang bisa bereplikasi dan mewariskan kehidupan.

Semua penelitian di atas mengarah pada pembentukan asam amino sebagai langkah awal evolusi. Akan tetapi, betulkah semua ini proses alam semata seperti yang dipercaya Hawking dan Mlodinow, ataukah ada kehendak Yang Kuasa?
Sumber :
Kompas Cetak
READ MORE - Mencari Asal-usul Kehidupan >

Dunia Semakin Berangin

Posted by Artikel Menarik | 1:10 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com — Selama 20 tahun terakhir dunia semakin berangin. Belum ada studi yang bisa menjelaskan penyebabnya.

Berdasarkan analisis terhadap data satelit global, dalam 20 tahun terakhir angin ekstrem yang disebabkan oleh badai meningkat, naik 10 persen. Sementara itu, kecepatan angin rata-rata meningkat 5 persen.

Studi yang dilakukan oleh Swinburne University of Technology di Melbourne, Australia, melihat pada kecepatan angin di berbagai area luas di seluruh dunia. "Penelitian pada beberapa area yang lebih kecil juga menunjukkan hasil yang sama," kata Ian Young yang memimpin studi. Dengan demikian, Young dan timnya mengambil kesimpulan bahwa ada peningkatan.

Meskipun mendapati kalau dunia lebih berangin, tim yang dipimpin Young belum dapat menyimpulkan penyebabnya. "Entah akibat pemanasan global, entah sekadar pola siklus," kata Young.

Dengan kondisi angin seperti ini, Young menjelaskan lebih lanjut, pasti ada perubahan pada desain struktur bangunan pada pantai dan lepas pantai, erosi, dan ekosistem laut. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
READ MORE - Dunia Semakin Berangin >

Manusia Magnet: Misteri atau Fisika?

Posted by Artikel Menarik | 12:18 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com — Discovery News meragukan kemampuan magnetik (atau supranatural) milik Bogdan, bocah laki-laki asal Serbia, sehingga perabotan rumah tangga bisa menempel pada kulitnya. Ada penjelasan dengan fisika mengenai "kemampuan" itu.

Dalam sebuah artikel, Discovery News menyatakan bahwa fenomena itu tidak terletak pada sifat magnet atau kemampuan mistis, tetapi terletak pada fisika friksi pada kulit. "Kulit elastis dan bisa menyelaraskan bentuknya dengan obyek yang menyentuhnya. Efek ini semakin terasa pada hari yang panas dan kulit tersentuh oleh tempat duduk plastik. Kulit juga bisa bersifat adhesif atau perekat pada beberapa material," demikian tertulis dalam artikel.

Bukti lain akan tiadanya sifat magnetik yang disebutkan oleh Discovery News adalah tidak semua benda metal menempel pada kulitnya. Piring plastik dan gelas juga menempel. "Apa persamaan besi, gelas, dan plastik? Mereka punya permukaan yang mulus," demikian penjelasan Discovery News.

MSNBC dan The Daily Mail melaporkan ada bocah laki-laki dari Serbia yang punya kemampuan magnetik. Sendok, garpu, pisau, dan perabotan dari besi lainnya bisa menempel di tubuhnya. Selain itu, Bogdan—dan orang lain yang mengaku punya kemampuan serupa—juga memiliki sedikit rambut pada kulit sehingga obyek bisa menjalin kontak nyaris sempurna dengan kulit.

Discovery News juga menunjukkan cara paling sederhana untuk membuktikan adanya medan magnet. Pada video, Bogdan selalu menempelkan objek-objek langsung pada kulit, tanpa pakaian. Apabila memang ada medan magnet, seharusnya Bogdan juga bisa menempelkan obyek ketika ia mengenakan pakaian karena medan magnet bisa menembus kain tipis.

Pada Kamis (24/2/2011), Daily Mail menurunkan berita mengenai Bogdan. Keluarganya mengaku Bogdan memiliki kemampuan magnetik sejak lahir. Keluarga Bogdan melarang si bocah mendekati alat-alat listrik seperti televisi dan komputer. "Kemampuan magnetnya membuat alat-alat seperti itu mati," ujar keluarga.

Untuk membuktikan kemampuan itu, Bogdan diminta bergaya di depan kamera dengan berbagai obyek di dadanya. Pertama, Bogdan menempelkan berbagai perabotan makan kemudian pengendali (remote) televisi. Bogdan mencabut obyek-obyek itu dari tubuh menggunakan tangannya. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
READ MORE - Manusia Magnet: Misteri atau Fisika? >

Kenapa Gempa Jepang Bisa Sedahsyat Itu?

Posted by Artikel Menarik | 12:35 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com — Para ilmuwan khususnya pakar kegempaan di berbagai belahan dunia masih terus menganalisis pemicu gempa dahsyat berkekuatan 9 yang mengguncang Jepang, Jumat (11/3/2011). Gempa dengan kekuatan sebesar itu memang jauh di atas prediksi para ahli.

Sepanjang sejarah pencatatan gempa secara intensif, gempa tersebut merupakan yang paling kuat. Gempa dengan kekuatan yang hampir setara terakhir terjadi lebih dari 1.000 tahun lalu, yakni gempa pada tahun 869 yang diperkirakan berkekuatan 8,4 skala Richter.

Inilah yang membuat para pakar masih terus penasaran kenapa gempa tersebut bisa sebesar itu?

Professor Yugi Yaji dari Universitas Tsukuba berpendapat, gempa yang diberi nama resmi gempa Tohoku-Chiho Taiheiyo-Oki terjadi akibat pergerakan di beberapa area sekitar sumber energi gempa (focal point) secara bersama-sama. Menurutnya, hal tersebut yang mungkin bisa menimbulkan kekuatan gempa yang hanya bisa terjadi tiap sekitar 1.000 tahun sekali.

Gempa tersebut terjadi di zona subduksi atau pertemuan lempeng akibat dipicu pergerakan Lempeng Pasifik yang mendesak Lempeng Amerika Utara. Lempeng Pasifik yang tak kuat menahan desakan tersebut akhirnya roboh.

"Bagian yang runtuh sepanjang 500 kilometer dan selebar 100 kilometer jatuh hingga setinggi 8 meter. Beberapa area di Prefektur Fukushima sangat tegang, bisa diduga bahwa beberapa wilayah bergerak bersamaan," katanya.

Yaji mengatakan, gempa akibat mekanisme ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Gempa Cile yang terjadi pada tahun 1960 dan gempa Sumatera yang terjadi 26 Desember 2004 juga disebabkan oleh mekanisme serupa.

Para ahli sendiri sebenarnya telah memperkirakan gempa dahsyat akan terjadi di wilayah sekitar zona tersebut, namun diperkirakan hanya berkekuatan 7,5-8 skala Richter. Namun, gempa yang terjadi Jumat kemarin ternyata lebih besar dengan energi seismik 90 kali lebih besar dari perkiraan. Energi seismik yang dilepaskan dalam gempa tersebut 180 kali lebih besar dari gempa besar Hanshim yang menghancurkan Kobe tahun 1995 dan menimbulkan korban jiwa 6.000 orang.

Takashi Furumura, profesor dari Universitas Tokyo, mengatakan, gempa Jumat kemarin bisa jadi gempa maksimum yang mengguncang Jepang. Gempa tersebut mungkin didorong gempa bermagnitude 7,2 yang mengguncang Miyagi Agustus 2005 lalu. Sebab berdekatan dengan pusat gempa tersebut adalah pusat gempa Miyagi.

Para pakar kegempaan Jepang kini pun masih terus memantau dampah gempa raksasa tersebut. Meski diperkirakan tak akan muncul gempa sebesar itu lagi dalam waktu dekat, perubahan struktur lempeng tersebut dapat mengaktifkan patahan-patahan di sekitarnya dan memicu gempa berikutnya. Tak hanya gempa susulan, tapi juga gempa di daratan.
READ MORE - Kenapa Gempa Jepang Bisa Sedahsyat Itu? >

Inilah Jejak Tsunami Paling Mematikan

Posted by Artikel Menarik | 12:31 PM | | 0 comments »


JAKARTA, KOMPAS.com — Kekuatan alam tak pernah bisa dilawan. Bencana gempa berkekuatan 8,9 skala Richter (SR) disertai tsunami yang menerjang kawasan pantai timur Pulau Honshu, Jepang, Jumat (11/3/2011) pada pukul 02.46 waktu Tokyo, menunjukkan betapa dahsyat kekuatan itu.

Belum ada keterangan resmi berapa jumlah korban yang tewas atas bencana tersebut. Namun, jika dilihat dari efek kekuatan dahsyatnya, banyak pihak memperkirakan lebih dari ratusan orang menjadi korban.

Indonesia adalah negara yang juga menjadi saksi betapa dahsyatnya kekuatan itu. Tsunami pernah melanda kawasan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan sejumlah wilayah di Tanah Air hingga menelan ribuan korban jiwa.

Seperti apa jejak kedahsyatannya, berikut catatan mengenai gempa paling buruk dalam seabad terakhir.

Cile, 28 Februari 2010: Gempa dengan kekuatan 8,8 SR disusul tsunami telah menewaskan lebih dari 800 orang dan menyebabkan 2 juta orang kehilangan tempat tinggal. Jumlah korban terbanyak adalah mereka yang tinggal di kawasan pesisir.

Kawasan Pasifik, 30 September 2009: Terjadi dua kali gempa dengan kekuatan masing-masing mencapai 8,1 SR dan 8,0 SR dalam waktu yang hampir bersamaan. Kondisi ini memicu terjadinya tsunami yang menerjang kawasan Samoa dan Tonga. Tinggi gelombang tsunami mencapai 5 meter. Korban tewas mencapai 192 orang.

Asia, 26 Desember 2004: Gempa berkekuatan 9,3 SR terjadi di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh dengan kedalaman mencapai 10 kilometer. Memicu tsunami di sejumlah kawasan Asia dan dua negara Afrika. Disebut-sebut sebagai gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Korban mencapai sekitar 250.000 orang tewas di delapan negara. Nanggroe Aceh Darussalam (Indonesia), Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar.

Papua Niugini, 17 Juli 1998: Setelah diterjang dua kali gempa dengan kekuatan 7,0 SR, gelombang tsunami pun tak terhindarkan dan merusak apa pun hingga jarak 30 kilometer dari garis pantai utara. Berdasarkan data resmi dari pemerintah, sebanyak tujuh desa tersapu tsunami dengan korban tewas ditaksir mencapai lebih dari 2.000 jiwa. Sementara data dari wilayah setempat menyebutkan, korban tewas antara 6.000 dan 8.000 jiwa.

Indonesia, 12 Desember 1992: Gempa berkekuatan 7,5 SR memicu gelombang tsunami dan menyapu permukiman di pesisir pantai Flores. Tsunami tersebut menewaskan setidaknya 2.100 jiwa, 500 orang dinyatakan hilang, 447 orang luka-luka, dan 5.000 orang mengungsi.

Gempa tersebut sedikitnya menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya. Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur.

Filipina, 17 Agustus 1976: Gempa berkekuatan 7,9 SR menyebabkan tsunami yang menewaskan lebih dari 5.000 orang. Tsunami menghancurkan hampir seluruh wilayah Moro dan kota Pegadian.

Cile, 21-30 Mei 1960: Gempa berkekuatan 9,5 SR disusul bencana tsunami yang menerjang sejumlah negara-negara di kawasan laut Pasifik, termasuk Filipina dan Jepang. Di Cile, korban tewas mencapai 5.700 jiwa, 61 jiwa di Hawaii, dan 130 jiwa di Jepang.

Uni Soviet, 4 November 1952: Gempa terjadi di Semenanjung Kamchatka dengan kekuatan mencapai 9,0 SR dan menyebabkan tsunami yang cukup dahsyat. Gelombang tsunami melintasi Pasifik hingga Cile dan Peru. Lebih dari 2.300 orang meninggal.

Jepang, 3 Maret 1933: Gempa berpusat di Sanriku, Pulau Honshu, dengan kekuatan mencapai 8,3 SR diikuti oleh tsunami yang menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa.
READ MORE - Inilah Jejak Tsunami Paling Mematikan >

Fenomena "Sundog" Tampak bagai UFO

Posted by Artikel Menarik | 12:29 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com — Seorang fotografer asal Bristol, Adam Gasson, berhasil mengabadikan fenomena Sundog di sebuah pantai wilayah utara Cowes, Isle of Wight, Inggris, yang tampak pada Sabtu (5/3/2011).

Sundog memiliki nama ilmiah parhelion. Ini adalah fenomena di atmosfer berupa spot cahaya yang terang yang biasanya muncul saat curah hujan tinggi dan suhu atmosfer sangat dingin.

Sundog terbentuk ketika terdapat kristal es (yang kadang disebut debu berlian) di udara rendah. Kristal es akan membelokkan sinar matahari dengan sudut minimal 22 derajat.

Jika kristal tersusun random, maka akan terbentuk halo matahari. Namun, jika kristal tersusun berlapis, maka cahaya matahari akan dibelokkan horizontal dan sundog terbentuk.

Sundog bisa disebut juga anjing penjaga matahari. Seperti namanya, sundog seolah akan menemani matahari, menyebabkan munculnya "matahari baru" di sisi Matahari.

Gasson mengatakan, "Saya melihat sundog itu melayang di langit dan saya berpikir, ini pasti sesuatu yang spesial. Cara sundog itu melayang di langit membuatnya bagaikan UFO."

"Sundog itu bertahan di langit ketika saya melihatnya selama lebih kurang 20 menit. Ia tampak sangat terang dan merupakan salah satu hal terindah yang pernah saya saksikan," katanya.

Fenomena sundog pernah terjadi juga di Thailand dan Kazakhstan. Di China, fenomena sundog juga pernah terjadi dan mengakibatkan Bumi seolah-olah memiliki empat matahari.

Di Indonesia, sundog mungkin belum pernah dijumpai. Namun, fenomena halo sudah pernah tampak di beberapa daerah, seperti Bogor, Yogyakarta, dan Padang.
READ MORE - Fenomena "Sundog" Tampak bagai UFO >

Musim Kemarau Mulai Mei-Juni

Posted by Artikel Menarik | 12:27 PM | | 0 comments »


JAKARTA, KOMPAS.com — Dari 220 zona musim di Indonesia, 60 persennya mulai masuk musim kemarau pada Mei atau Juni. Musim kemarau di sejumlah daerah justru maju pada Maret atau mundur pada Agustus.

"Awal kemarau ini rata-rata mundur dari kondisi normalnya selama 30 tahun terakhir karena masih adanya pergerakan uap air dari Samudra Pasifik. Pergerakan uap air itu pengaruh La Nina yang cenderung melemah," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sri Woro B Harijono di Jakarta, Selasa (8/3/2011).

Daerah yang mengalami kemarau mulai Maret adalah tenggara Pulau Sumbawa, Kepulauan Solor dan Alor. Sementara yang kemaraunya baru pada Agustus adalah pesisir timur Kalimantan Timur dan pesisir timur Sulawesi Selatan.

Di Jawa, kemarau diawali dari pesisir timur dan selatan Jawa Timur, bagian utara Madura dan pantai utara Jawa Barat pada April mendatang. Untuk Jakarta, kemarau di Jakarta bagian utara dimulai pertengahan Mei dan Jakarta bagian selatan awal Juni.

"Setiap zona musim, awal musim dan kondisi kemaraunya berbeda-beda," ujarnya.

Indonesia memiliki 220 zona musim dan 73 zona nonmusim. Zona nonmusim itu tidak diprediksi cuacanya karena perbedaan antara musim kemarau dan hujannya tidak jelas. Hujan hampir selalu turun sepanjang tahun.

Daerah yang masuk zona nonmusim umumnya di sekitar garis khatulistiwa, pesisir barat Sumatera, pesisir Teluk Tomini, sebagian Maluku, sebagian besar Papua, serta sekitar Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Halimun.

Kemarau normal

Kepala Subbidang Peringatan Dini Iklim BMKG Erwin ES Makmur mengatakan, kemarau tahun ini diperkirakan normal, bukan kemarau basah yang banyak hujan seperti pada 2010. Perkiraan itu berlaku hingga tiga sampai empat bulan ke depan.

Peluang terjadinya kemarau ekstrem berkepanjangan kecil. Pola iklim selama ini setelah pengaruh El Nino diikuti La Nina. Iklim selanjutnya normal lagi. El Nino terakhir terjadi 2009 dan La Nina pada 2010. Artinya, jika pola iklim masih sama, kemarau 2011 akan normal.

Kemungkinan terjadinya kemarau basah juga kecil karena pengaruh La Nina berkepanjangan. Hingga beberapa tahun biasanya berulang 15-20 tahun sekali. Pengaruh La Nina berkepanjangan terakhir terjadi antara 1998 dan 2002.

"Walau musim kemarau, bukan berarti tidak akan ada hujan sama sekali," kata Erwin. Hujan tetap berpeluang terjadi dengan curah rendah yang dipicu pergerakan angin siklon mendekati khatulistiwa.

Topografi Indonesia yang beragam berpadu dengan sinar matahari yang berlimpah sepanjang tahun, serta faktor diapit dua samudra, membuat iklim Tanah Air sulit diprediksi.
READ MORE - Musim Kemarau Mulai Mei-Juni >

Tornado Api Muncul di Hongaria

Posted by Artikel Menarik | 12:26 PM | | 0 comments »


BUDAPEST, KOMPAS.com — Tornado api terlihat berputar ganas di atas pengolahan plastik pada hari Selasa minggu lalu. Tornado api ini tercipta di antara kebakaran besar di Budapest, Hongaria. Sampai sekarang, penyebab dan jumlah korban kebakaran belum diketahui. Demikian menurut kantor berita Reuters.

”Tornado api ini terjadi saat tingkat panas yang tinggi dan angin yang bergejolak bercampur dan membentuk pusaran arus udara,” kata insinyur mekanik dari U.S. Forest Service di Montana, Jason Forthofer. ”Pusaran itu menjadi padat lalu mengisap puing dan gas yang mudah terbakar,” tambahnya.

Diameter inti api dari tornado itu biasanya sebesar 0,3 hingga 0,9 meter dan tingginya mencapai sekitar 3 meter. Dalam kondisi ekstrem, tornado api dapat melebar lebih dari 3,5 meter dengan tinggi ratusan meter.

Tornado api dapat berlangsung selama satu jam atau lebih karena tornado ini hanya dapat mereda bila inti pusaran sirna. Tornado api yang disebut dengan firenadoe biasanya muncul saat kebakaran yang liar dan mudah menyebar, bukan di perkotaan.

”Jika kita bisa mengidentifikasi kondisi yang menyebabkan putaran api terjadi, kita bisa memprediksi tornado api. Ini sebuah langkah yang baik, khususnya untuk para pemadam kebakaran,” kata Jason. (National Geographic Indonesia/Arief Sujatmoko)
READ MORE - Tornado Api Muncul di Hongaria >

Fenomena Kolam Hijau di Kutub Selatan

Posted by Artikel Menarik | 12:23 PM | | 0 comments »


KOMPAS.com - Sebuah kolam yang dipadati kehidupan ditemukan di antara es di Kutub Selatan. Kolam yang dikelilingi es warna putih tersebut berisi air berwarna hijau sehingga terlihat mencolok dibanding perairan sekitarnya. Kata para ilmuwan, inilah anugerah pemanasan global.

Menurut mereka, kolam di daerah terpencil itu berwarna hijau akibat klorofil dari ganggang yang terdapat di situ. Di kolam itu pula didapati krustasea kecil, ikan, larva udang.

"Ini kolam terhijau yang pernah saya lihat," kata Patricia Yager, kepala ilmuwan Amundsen Sea Polynya International Research Expedition (ASPIRE). Yager mengutarakan kalau jumlah klorofil per liter di kolam itu lima kali lebih banyak dibandingkan beberapa tempat di Sungai Amazon.

Kolam yang dikelilingi oleh es laut seperti ini sering disebut dengan istilah polynya. Perairan seperti ini biasanya kaya nutrisi dan menjadi tempat bernaung bagi binatang, baik besar maupun kecil. Demikian jelas Yager.

Polynya bisa terbentuk dengan dua alasan: angin yang meniup bongkah es menjauh dari pantai dan udara atau air hangat mencairkan es. Ketika es mencair, nutrisi turut terlepas ke laut. Nutrisi yang kebanyakan penting bagi tumbuhan itu membuat ganggang berkembang.

"Ketika gletser dan es laut di bagian barat Kutub Selatan mencair karena pemanasan global, lebih banyak nutrisi yang mengalir ke lautan dan membuat ganggang berkembang semakin luas," Yager menjelaskan.

Menurut Yager, ledakan jumlah ganggang ini bisa jadi anugerah karena ganggang melahap karbon dioksidad akibat efek rumah kaca. "Tapi ini baru satu sisi," katanya.

Ia mengatakan kalau ganggang menjadi makanan bagi zooplankton yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer saat bernapas. Yager juga menyebutkan bakteri yang mengurai ganggang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida.

Meskipun demikian, untuk saat ini, kolam polynya merupakan hal yang baik bagi iklim Bumi karena mereka memerangkap karbon. "Tapi hanya itu saja," kata Lisa Miller, ahli biologi kelautan dari Fisheries and Oceans Canada. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
READ MORE - Fenomena Kolam Hijau di Kutub Selatan >

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...